#23 When God Was A Rabbit

Judul Buku : When God Was A Rabbit

Penulis : Sarah Winman

Halaman : 396

Penerbit : Bentang Pustaka

Buku ini adalah memoar seorang gadis bernama Ellie, yang terbagi dalam dua bagian. Ellie sebagai gadis kecil dan Ellie yang adalah wanita dewasa. Ellie punya seorang kakak laki-laki, Joe, yang menjadi saksi kehidupan Ellie. Suatu waktu Ellie bertemu dengan Mr. Golan, seorang pria Yahudi yang mengalami masa-masa pahit di kamp penampungan. Ellie merasa bersahabat dengan Mr. Golan.  Entah apa yang terjadi pada Ellie dan Mr. Golan, yang pasti Ellie merahasiakan hal tersebut dari siapapun kecuali Joe. Joe kemudian melarang Ellie berteman dengan Mr. Golan, dan membelikan kelinci untuk Ellie. Mereka menamakan kelinci itu ‘god”. Ketika Mr. Golan ditemukan tewas bunuh diri, baik Ellie maupun Joe menyimpan rahasia pahit itu di dalam diri mereka masing-masing.

Ellie kemudian berteman dengan Jenny Penny. Gadis berambut ikal yang berasal dari keluarga broken home. Jenny seringkali harus menginap di rumah Ellie, karena ibunya sering membawa pacarnya pulang ke rumah. Bahkan Jenny berharap suatu waktu bisa tinggal bersama keluarga Ellie.

Selain orangtuanya (Mum & Dad), Joe, dan Jenny Penny, ada Nancy (bibinya yang lesbian dan seorang  artis) yang hadir memberi warna dalam hidup Ellie. Ada juga Charlie, teman baik Joe (yang di kemudian hari terungkap bahwa Joe juga memiliki disorientasi seksual, dan mencintai Charlie). Ada Arthur dan Ginger, dua orang tamu tetap di rumah mereka yang akhirnya menjadi anggota keluarga.

Ohya, bagaimana dengan “god”? God mati ketika dilindas oleh mobil seorang tamu yang menginap di rumah mereka. Akan tetapi Ellie masih sering mengalami pengalaman spiritualnya berjumpa dengan god ketika dia berada dalam suatu kondisi tidak menyenangkan. God memberikan keyakinan pada Ellie dengan cara mereka sendiri.

Buku ini tidak bisa saya kategorikan buku santai. Saya perlu mencerna kalimatnya dengan baik agar saya bisa mengerti apa yang diceritakan oleh Ellie. Terkadang Ellie menyisipkan cerita dalam cerita, sehingga saya sering bingung siapa lagi pengganti ‘-nya’ yang diceritakan kali ini. Tapi mendekati halaman terakhir, saya bisa memahami pemikiran sederhana Ellie,  sekaligus melihat bahwa hidupnya tidaklah sederhana. Ellie merasakan sakit hati dibohongi Mr. Golan. Dia juga kecewa ketika Jenny Penny pergi dan tidak ada kabar sampai akhirnya mereka dewasa dan Ellie tahu Jenny ada di penjara karena membunuh suaminya. Ellie merasakan kehampaan ketika Joe mengalami amnesia. Atau kesedihan ketika Arthur harus mengalami kebutaan akibat “obat kuat” yang dikonsumsinya.

Banyak hal dikisahkan dalam buku ini, lewat sudut pandang Ellie. Ada sedih, kehilangan, kegembiraan yang meluap, cinta, harapan, persahabatan.  Salut buat mbak @rinurbad yang sudah menerjemahkan buku ini tanpa kehilangan gaya Ellie. Apalagi buku ini nyaris tanpa typo. Saya sendiri tidak menyesal memasukkan buku ini dalam daftar koleksi di 2011 kemarin. Empat bintang untuk buku ini.

8 thoughts on “#23 When God Was A Rabbit

    • Sempat bermasalah, makanya saya bilangnya harus berkali-kali dibaca. Tapi sepertinya terjemahannya itu emang pas untuk ceritanya yang bernuansa british🙂

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s