#24 Orange

Judul Buku : Orange

Penulis : Windry Ramadhina

Halaman : 286

Penerbit : Gagas Media

Diyan Adnan. Seorang pengusaha sukses, anak dari pasangan konglomerat Tyo Adnan dan Indra Adnan. Pria tampan dengan penampilan fisik menarik, kaya, prestasi bisnis segudang, dan tentu saja masih single. You shop in mall, Diyan Adnan shops a mall. While eating lasagna. Sebagai anak pengusaha, Diyan yang memiliki jiwa bisnis merasa wajib untuk tetap menjalankan bisnis keluarganya. Diyan mencintai seorang model, yang pergi meninggalkannya di saat Diyan meminta gadis itu menikahinya. Diyan tidak mampu melupakan gadis itu, bahkan ketika dia ditunangkan oleh orangtuanya dengan seorang gadis anak dari rekan bisnis ayahnya.

Fayrani Muid. Lulusan perguruan tinggi jurusan fotografi. Objek apapun yang diabadikan olehnya dengan kamera pro Nikon kesayangannya selalu terlihat menarik. Kemampuannya dalam menangkap momen, membuatnya menjadi tangan kanan seoang pemilik studio foto ternama se-Asia, Erod Martin. Walaupun kedua orangtuanya sukses dalam dunia bisnis, Faye tidak tertarik sama sekali dengan bisnis. Ketika dia memilih menekuni dunia fotografi, kedua orantuanya tidak mampu menahannya. Untuk meneruskan bisnis keluarga, Faye ditunangkan dengan seorang pemuda sukses bernama Diyan Adnan.

Zaki Adnan. Anak hilang yang tidak mau terlibat dalam dunia bisnis, dan memilih bidang advertising sebagai lahan hidupnya. Lulusan sekolah desain ternama di Belanda ini memulai usaha advertising dengan teman-temannya tanpa mau terlibat urusan bisnis. Ketika dia bertemu dengan seorang gadis yang begitu menarik perhatiannya, Zaki mulai terobsesi. Sayangnya gadis itu adalah tunangan kakaknya, Diyan Adnan.

Rera. Model cantik yang memiliki ambisi untuk memiliki agensi model internasional. Dia meninggalkan Jakarta dan tunangannya ke Paris, demi mimpinya. Sayangnya, Rera tidak menyadari bahwa cinta yang dia tinggalkan di Jakarta masih mengikatnya begitu kuat, sampai ketika dia harus kembali ke Jakarta dalam suatu perjalanan bisnis. Di tengah kegalauannya, Rera tahu bahwa cintanya dengan Diyan adalah hal terakhir yang bisa dipegangnya, walaupun dia tahu cinta itu tidak akan membawa akhir apapun kecuali perpisahan.

Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain.

Kalimat diatas masing-masing dirasakan oleh empat tokoh dalam buku ini, Diyan, Fayrani, Zaki dan Rera. Kisah cinta segiempat yang terjadi di antara mereka membuat jalan hidup mereka berasa bittersweet seperti buah jeruk.  Membaca buku ini membuat saya juga merasakan bittersweet itu. Dalam kehidupan, antara ambisi pribadi dan manisnya cinta terkadang tidak bisa sejalan. Ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan salah satunya, terlebih lagi keduanya.

Terlepas dari manis pahitnya cinta dalam metropop ini, penggunaan banyak kalimat berbahasa inggris dalam percakapan antara tokoh-tokoh dalam buku ini mudah untuk dicerna dan dapat dipahami. Bisa dimaklumi ketika penulis mencoba memasukkan banyak unsur kebarat-baratan di dalam buku ini, termasuk di dalamnya sex before married. Saya menangkap kesan bahwa penulis ingin meniru kisah-kisah roman seperti Harlequin untuk membangun sisi romantisme dalam buku ini.

Selain itu, saya menemukan sedikit kejanggalan yang menggangu dalam membaca buku ini. Misalnya pada halaman 91, ketika dikisahkan Faye yang menghindari wartawan menolak melepaskan topi dan kacamata hitamnya ketika ditegur oleh Zaki. Tapi di halaman berikutnya (92), tertulis bahwa Zaki melihat mata Faye yang bersinar antusias. Padahal tidak tertulis bahwa Faye melepaskan kacamatanya.

Kemudian ada satu ilustrasi di halaman 56 yang menutupi sebagian tulisan. Semoga hal ini tidak ada lagi di cetakan kedua.

Ohya, saya menyukai salah satu tokoh lain dalam buku ini. Reina Adnan. Sekretaris sekaligus sepupu Diyan, yang merupakan tangan kanan Diyan. Dia “bertugas” untuk membereskan segala sesuatu yang berkaitan dengan Diyan, mulai dari bisnis sampai hubungan pribadi Diyan. Konsistensi Rei memanggil Faye dengan nama aslinya, Fayrani, menyiratkan bahwa Rei menganggap Faye hanyalah salah satu dari sekian hal yang harus diurusnya dalam kehidupan Diyan.

After all, empat bintang untuk Orange. Btw, terima kasih buat @peri_hutan yang mau meminjamkan buku ini🙂

11 thoughts on “#24 Orange

  1. setuju. Kurang panjang ya ceritanya.

    Ada yg suka main ke blognya orange? Ato blog penulisnya?
    Di blog itu, ada short story dari Orange
    Dan saya ngarep penulisnya bikin short story-nya Reina, eh yang dibikin malah short story-nya Faye dan Diyan-Rera (yg mana tetap menarik sih).😀

  2. ceritanya menarik… tapi… nama tokohnya yang bikin nggak seneng… :(((((((( harus dihilangkan perasaan nggak senengnya kalo emang minat bacanya…

    nice review mbak…🙂

  3. Pingback: #27 Metropolis « Desty Baca Buku

  4. bisa pinjem gak aq cari bukunya gak ketemu- ketemu,,di jamin dibalikin deh,,jaminan ktp juga boleh,serius nich pengen banget baca

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s