#40 Ai

Judul Buku : Ai

Penulis : Winna Efendi

Halaman : 288

Penerbit : Gagas Media

Awalnya hanya ada Ai dan Sei. Mereka lahir pada tanggal dan bulan yang sama, hanya saja Ai setahun lebih tua daripada Sei. Pertemuan pertama mereka adalah ketika Sei terduduk di atas salju mengangisi Shin, marmutnya yang mati. Ai menghibur lelaki kecil itu, dan mereka bersama-sama menguburkan Shin di dalam salju. Sampai di tahun terakhir SMA, Ai dan Sei selalu bersam-sama, kecuali ketika Ai harus pergi dengan ibunya ke Bali, meninggalkan ayah Ai di Jepang. Ketika ibu Ai meninggal, Ai kembali seorang diri ke Jepang dan kembali hidup bersama ayahnya. Sejak saat itu Ai dan Sei saling berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain. Di tahun terakhir SMA itu, datanglah Shin, pemuda dari Tokyo, dan menjadi sahabat ketiga mereka. Jadilah, Sei, Ai dan Shin sahabat yang selalu bersama-sama.

Pilihan untuk bersama itu berlanjut ketika ketiganya berhasil masuk ke Universitas Todai di Tokyo.  Ketiganya juga menempati apartemen yang sama. Akan tetapi pilihan untuk tetap bersama menjadi lebih sulit (bagi Sei), ketika Ai dan Shin memproklamirkan diri mereka menjadi sepasang kekasih. Sei, yang sudah lama memendam perasaan kepada Ai harus mengalah demi kebahagiaan Ai.

Sayangnya, kebahagiaan itu berlangsung singkat. Mereka (kembali) harus kehilangan sosok Shin, yang meninggal akibat kecelakaan. Mereka bahkan tidak sempat mengucapkan kata perpisahan pada Shin. Ai menjadi orang yang berbeda.  Sei sekali lagi memilih tetap di samping Ai, menjaga Ai, dan melindungi Ai.

Selain ketiga tokoh di atas, ada satu tokoh lagi yang juga mengambil peran penting yaitu Natsu (dan saya pribadi lebih menyukai tokoh yang satu ini). Gadis yang bekerja di restoran ramen tempat Sei bekerja ini, jatuh cinta pada Sei. Sei dan Natsu bahkan hampir hidup bersama, walaupun Natsu sudah teahu sedari awal hanya ada Ai di hati Sei. Natsu jugalah yang kemudian menyadarkan Ai tentang cinta sejatinya. Walaupun Natsu harus kehilangan lagi. Ada satu kalimat yang membuat saya jatuh cinta pada Natsu, adalah ketika dia dengan tegasnya mengkritik Ai yang sudah merebut Sei darinya. Kalimat yang sama yang menyadarkan Ai akan cinta sejatinya.

“Aku tidak membencimu. Yang aku benci adalah orang-orang lemah yang tidak bisa berdiri pada kedua kaki mereka sendiri, selalu bergantung dan menyebabkan penderitaan pada orang lain”

Kisah cinta segitiga berlatar belakang kota Tokyo dan sekitarnya, serta budaya Jepang yang kental mengalir manis dari tulisan Winna. Hal yang unik adalah kisah segitiga ini diceritakan dari sudut pandang Sei dan Ai secara bergantian. Walaupun porsi Sei lebih banyak, tapi pada porsi Ai ada penyelesaian konflik segitiga ini. Saya juga suka dengan ornamen sakura di setiap halaman buku ini, yang membuat nuansa Jepangnya semakin terasa.

Empat bintang untuk Natsu, Sei, Shin, dan Ai.

PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

4 thoughts on “#40 Ai

  1. “Sayangnya, kebahagiaan itu berlangsung singkat. Mereka (kembali) harus kehilangan sosok Shin, yang meninggal akibat kecelakaan. Mereka bahkan tidak sempat mengucapkan kata perpisahan pada Shin. Ai menjadi orang yang berbeda. Shin sekali lagi memilih tetap di samping Ai, menjaga Ai, dan melindungi Ai.”

    Itu yg meninggal jadinya Shin atau Sei ya?

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s