#53 Dimsum Terakhir

Judul Buku : Dimsum Terakhir

Penulis : Clara Ng

Halaman : 368

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Saya sudah lama naksir dengan novel ini. Apalagi ada kata “dimsum” di judulnya dan endorsement-nya yang mengatakan bahwa novel ini membeberkan persoalan-persoalan seputar kaum keturunan Tionghoa. Entah kenapa, saya selalu tertarik dengan cerita tentang kehidupan kaum Tionghoa di Indonesia. Hingga akhirnya kesampaian juga saya membca novel ini, dan saya sangat tidak menyesal🙂

Novel ini bercerita tentang empat orang anak kembar, semuanya anak perempuan. Nung dan Anas memberikan nama Cina layaknya orang Cina yang tinggal di Indonesia kepada anak-anaknya.  Tan Mei Xia (Siska), Tan Mei Yi (Indah), Tan Mei Xi (Rosi), dan Tan Mei Mei (Novera). Walaupun kembar, kepribadian mereka tidak ada yang sama. Siska adalah seorang yang berpendirian kuat, mandiri, nyaris tidak mempertimbangkan perasaan dalam mengambil keputusan. Indah orangnya paling serius di antara mereka berempat, semua hal harus dipikirkan olehnya. Rosi yang tomboy, jagoan, tidak pernah tampil layaknya seorang perempuan. Novera si bungsu yang paling kecil perawakannya, lembut, dan perasa.

Masing-masing mereka telah hidup sukses, dengan jalan pilihan karier masing-masing. Siska yang paling mapan di antara lainnya tinggal di Singapura, Indah sebagai penulis dan wartawan di Jakarta, Rosi petani bunga di Puncak, dan Novera guru TK di Jogja. Ketika papa mereka, Nung, jatuh sakit, keempatnya harus kembali ke sisi papanya. Membawa persoalan masing-masing yang harus dihadapi, dan menguak tabir kehidupan yang selalu disembunyikan.

Menjadi seorang anak keturunan Cina membuat keempat gadis ini selalu hidup sebagai kaum marginal. Ternyata yang membuat mereka menjadi kaum marginal bukan hanya status keturunan saja. Ketika Nung mengucapkan permintaan terakhirnya, terungkaplah rahasia-rahasia dari keempat gadis ini. Nung “hanya” meminta keempat anak gadisnya menikah sebelum dia meninggal dunia.

Siska, yang sudah memantapkan hati tidak mau menikah karena tidak percaya pada lembaga pernikahan, tidak bisa menerima begitu saja permintaan terakhir papanya. Indah, yang hamil di luar nikah juga tidak bisa menikahi ayah bayinya karena pria itu adalah seorang pastor. Rosi merasa terjebak dalam tubuh perempuan padahal dirinya sebenarnya adalah laki-laki dan mencintai perempuan lainnya. Novera, yang rahimnya diangkat karena kista ganas merasa tidak percaya diri ada seorang pria yang mau menikahinya.

Alur cerita dalam novel ini sebenarnya berjalan lambat, diselingi dengan flashback memori dari masing-masing tokoh di dalamnya. Saya merasa penulis sengaja melakukan hal itu demi ketegasan karakter dari masing-masing tokoh. Budaya dan ritual masyarakat Tionghoa juga menjadi latar belakang yang indah dalam buku ini. Termasuk dengan pemilihan judul “dimsum”, dimana keluarga Nung memiliki ritual memakan dimsum bersama di hari pertama Imlek. Hanya ada satu yang mengganjal di benak saya saat menyelesaikan buku ini. Seperti ada beberapa lompatan waktu yang terkesan dipaksakan di bab-bab terakhir. Meskipun demikian, kepiawaian Clara Ng membuat twist yang manis tidak membuat kita kehilangan arah saat membacanya.

cover baru

Novel ini dirilis kembali pada tahun 2012 setelah diterbitkan untuk pertama kali pada tahun 2006. Covernya juga berganti. Tapi saya masih suka dengan cover lama, dengan warna merah dan karakter huruf yang benar benar terasa Cina-nya. Apalagi dengan gambar kaki empat orang perempuan yang menunjukkan perbedaan karakter. Tapi saya suka dengan tagline  pada cover baru :

A novel about being single and becoming part of a family… when everything is going totally wrong.

Empat bintang untuk kembar empat.

3 thoughts on “#53 Dimsum Terakhir

  1. salah satu yg saya sukai dari cerita clara ng adalah bahwa ia menceritakan hal2 yg mungkin tabu di masyarakat. selain itu konflik konflik yg terbangun dlm cerita ini merupakan kehidupan nyata. btw aku blm permah ketemu saudara kembar yg berempat tuh, hehehe

  2. waktu pertama kali baca judulnya kirain tuh ya ceritanya tentang cinta gitu aja… pas udah ngebaca reviewnya Mbak Desty… nyadar deh sadar besar…

    kayaknya masuk wishlist deh ni buku….

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s