#58 Selene Putri Sang Cleopatra

Judul Buku : Selene Putri Sang Cleopatra

Penulis : Michelle Moran

Halaman : 499

Penerbit : Esensi

Jika kita melihat sejarah antara Mesir dan Romawi di masa lampau, kita akan menemukan beberapa nama seperti Julius Caesar, Cleopatra VII, dan Tiga Serangkai : Oktovianus, Markus Antonius, dan Lepidus. Ketika Julius Caesar dibunuh oleh Brutus dan Cassius, Tiga Serangkai inilah yang bangkit untuk mengalahkan pembunuh Caesar tersebut. Akan tetapi persekutuan antara Tiga Serangkai tidak bertahan lama. Markus Antonius yang terpikat pada Cleopatra memilih untuk tinggal di Alexandria, Mesir dan meninggalkan Romawi, termasuk juga istrinya Oktavia (kakak dari Oktavianus).  Markus Antonius akhirnya menikah dengan Cleopatra dan memiliki tiga orang anak, Alexander, Selene, dan Ptolemius. Alexander dan Selene adalah anak kembar. Kehadiran ketiga anak tersebut semakin memicu perpecahan di antara Tiga Serangkai.

Pecahnya Tiga Serangkai diikuti dengan permusuhan di antara mereka. Ketika kekuasaan Lepidus direbut Oktavianus, Oktavianus pun bangkit melawan Markus Antonius. Lewat pertempuran laut di Aktium, Markus Antonius mengalami kekalahan. Ketika Markus Antonius dibunuh, dan Cleopatra melakukan bunuh diri karena tidak mau menjadi tawanan Oktavianus. Ketiga anak mereka akhirnya dibawa ke Romawi oleh Oktavianus. Sayangnya, Ptolemeus meninggal dalam perjalanan dan mayatnya dibuang ke laut.

Di Romawi, Alexander dan Selene dianggap sebagai tamu, dan dirawat oleh Oktavia. Meskipun datang sebagai tawanan perang, mereka berdua bisa tinggal di Villa Palatina milik Oktavianus.  Bagaimanapun juga mereka memiliki darah Romawi, walaupun secara fisik mereka terlihat seperti orang Mesir. Alexander memiliki keahlian berkuda, sementara Selene lebih tertarik pada arsitektur. Kemampuannya menggambar sketsa dan menguasai beberapa bahasa membuatnya semakin disayangi oleh Oktavia. Kepandaiaannya merancang bangunan dan  memilih bahan yang baik suatu waktu nanti akan menyelamatkan dirinya dari kekuasaan Oktovianus.

Berbeda dengan dua buku tentang Ratu Mesir sebelumnya (Nefertiti dan Nefertari), kali ini Selene tidak terlalu berperan dalam pemerintahan. Novel ini lebih banyak menceritakan tentang kondisi Romawi di bawah pemerintahan Caesar Oktovianus melalui sudut pandang Selene. Salah satu kondisi yang mendapat porsi cukup besar (dan menjadi benang merah dalam cerita ini) adalah tentang perbudakan. Pada saat itu, lebih dari separuh penduduk Romawi adalah budak dari berbagai bangsa. Mereka diperlakukan secara tidak manusiawi, diperjual-belikan, diadu dengan hewan buas, semuanya demi kesenangan penduduk yang memiliki kewarganegaraan Romawi. Jika ada seorang budak yang merugikan tuannya, maka seluruh budak harus menanggung akibatnya. Kondisi ini memicu pemberontakan bawah tanah oleh seorang yang disebut Elang Merah. Elang Merah selalu menempelkan pengumuman yang mengisyaratkan perlawanan terhadap Caesar Oktovianus. Beberapa kali juga Elang Merah menyelamatkan budak-budak yang tertindas. Yang jelas Elang Merah adalah ancaman bagi kekuasaan Caesar.

Selene, dalam hatinya, menentang perbudakan. Dia sendiri merasa dirinya tidak berbeda dengan nasib budak, karena masa depannya ditentukan oleh Caesar Oktovianus. Suatu waktu Selene membeli kebebasan seorang budak kesayangan Oktovia, setelah Gallia (nama budak itu) nyaris diperkosa oleh seorang senator tua. Selene pun ingin membangun sebuah rumah untuk anak-anak terlantar yang ditinggalkan oleh orangtua mereka di jalanan.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah bahwa dalam usia yang masih belia (12 tahun), Selene mampu merancang sebuah bangunan, memikirkan persoalan yang dihadapi rakyat, termasuk segala intrik dalam kekuasaan Romawi. Bukan hanya Selene, saudara-saudara tirinya dan anak-anak Caesar, bahkan sudah memikirkan tentang pernikahan dan kekuasaan. Umur segitu sih saya masih “sibuk” bermain dengan teman-teman saya…😉

Dalam buku ini juga ada kisah romantisnya. Selene menyukai Marcellus, calon pewaris tahta (anak dari Oktavia). Akan tetapi Marcellus sudah dijodohkan dengan Julia anak dari Caesar Oktovianus (pernikahan antar saudara di Romawi dimaksudkan untuk menjaga kemurnian klan mereka). Selene sendiri telah dijodohkan dengan Juba, salah satu panglima kesayangan Oktovianus. Padahal Selene tidak menyukai Juba yang dianggapnya selalu memandang sinis dan kasar pada Selene.  Lagipula sebagai orang terdekat Oktovianus, tentu saja Selene menaruh curiga pada Juba. Hanya saja Selene tidak tahu bahwa Juba telah jatuh hati padanya dan selalu melindunginya sejak Selene dibawa dari Mesir. Sayangnya kisah manis antara Selene dan Juba hanya mendapat porsi yang sedikit.

Ohya, di buku ini kita tidak akan menjumpai silsilah keluarga seperti di kedua buku sebelumnya. Hal ini membuat saya cukup bingung menghubungkan antara satu tokoh dengan tokoh yang lain, padahal jumlah mereka cukup banyak. Sebagai gantinya, Michelle menampilkan peta kota Romawi lengkap dengan bangunan-bangunannya, yang menurut saya justru tidak perlu ada. Pilihan cover edisi terjemahan Bahasa Indonesia ini juga kurang menarik jika dibandingkan dengan cover edisi di luar sana.  Walaupun demikian, saya tidak ragu memberi  empat bintang untuk Selene🙂

PS. Postingan untuk Name In A Book Challenge 2012

2 thoughts on “#58 Selene Putri Sang Cleopatra

  1. #, saya sudah membaca novel tentang selene putri sang cleopatra versi indonesia sangat menarik n kisahnya bisa membuat saya terharu, ,jadi pengen baca novel lain nefertiti n nefertari🙂

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s