#69 Pride and Prejudice

Judul Buku : Pride and Prejudice

Penulis : Jane Austin

Halaman : 588

Penerbit : Qanita 

Pertama kali mengetahui kisah ini adalah waktu menonton DVDnya di rumah sepupu saya. Masih belum ngeh kalau kisah ini termasuk salah satu kisah roman populernya Jane Austen. Saya memilih untuk menonton DVDnya karena suka dengan cover DVD yang romatis habis. Tapi alih-alih romantis, saya dan sepupu malah ketiduran saat menontonnya karena filmnya membosankan.🙂

cover DVD yang romatis itu…

Baru sejak bergabung dengan BBI, saya baru sadar bahwa Pride and Prejudice termasuk dalam novel roman klasik. Banyak teman-teman yang membicarakannya, tapi saya tidak begitu tertarik karena filmnya saja tidak bagus. Tapi kemudian setelah membaca beberapa novel klasik, saya jadi penasaran dengan novel Pride and Prejudice. Beruntung salah seorang mahasiswa saya mau meminjamkan bukunya ke saya. Akhirnya, hari ini, setelah lama dicuekin di rak buku, Pride and Prejudice menemani saya saat saya terbaring sakit karena demam🙂

Mr. Bennet dan Mrs. Bennet mempunyai lima orang anak gadis (Jane, Lizzy, Mary, Kitty dan Lydia) yang cantik tapi belum menikah. Berhubung mereka bukan keluarga yang kaya dan tak satupun dari anak gadisnya itu yang akan mewarisi rumah dan tanah yang mereka tempati, Mrs. Bennet merasa perlu untuk mencarikan pasangan untuk anak-anaknya. Tentu saja dia haruslah pria yang kaya dan terhormat. Ketika desa mereka didatangi oleh seorang pemuda kaya, Mr. Bingley, Mrs. Bennet segera menyuruh suaminya untuk menemui pria tersebut. Singkat cerita, usaha mereka berbuah manis. Mr. Bingley memang menyukai Miss Bennet yang sulung (Jane).

Ternyata Mr. Bingley tidak datang sendiri. Dia ditemani adik perempuannya Miss Bingley, dan sahabatnya Mr. Darcy. Sayang sekali watak dan perilaku Mr. Darcy sangat jauh berbeda dengan Mr. Bingley yang ramah. Dia angkuh, sombong, dan menganggap rendah gadis-gadis Bennet. Lizzy adalah orang pertama yang menyatakan ketidak sukaannya terhadap Mr. Darcy, karena Mr. Darcy tidak mengajaknya berdansa, padahal dia berada tidak jauh dari Mr. Darcy sepanjang malam.

Seterusnya, kisah ini berlanjut dengan upaya keras Mrs. Bennet menjodohkan anaknya Jane dengan Mr. Bingley. Segala cara dilakukan Mr. Bennet bahkan menyuruh anaknya berhujan-hujan berkuda ke rumah Mr. Bingley, hanya agar anaknya sakit dan tinggal di rumah itu. Dooh… ibu ini, saking silaunya sama kekayaan Mr. Bingley malah mengorbankan anaknya. Untungnya Jane juga menyukai Mr. Bingley, jadi dia tidak mengeluh soal itu.

Sebenarnya kisah dalam buku ini ditujukan untuk Lizzy dan Mr. Darcy (seperti yang tertulis di ringkasan pada cover belakang buku). Tapi kisah antara Mr.Darcy dan Lizzy sendiri tidak banyak.  Tapi entah kenapa, saya cukup bersabar membaca cerita ini hingga sampai ke halaman tengah dimana Mr. Darcy dengan pedenya menyatakan cintanya pada Lizzy, tapi malah ditolak Lizzy. Lizzy sendiri menolaknya karena mendengar hal-hal buruk (dan tentu menyaksikan langsung perangai yang angkuh) dari Mr. Darcy.

“Sejak awal, perangaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi.”

 Lalu dimana letak romantismenya? Menurut saya romatismenya adalah ketika Lizzy menyadari bahwa pandangannya terhadap Mr. Darcy salah, dan diam-diam dia berharap Mr. Darcy akan melamarnya sekali lagi. Walaupun bertemu berkali-kali, tapi Mr. Darcy tidak juga melakukannya. Ketika Lizzy tahu bahwa Mr. Darcy diam-diam banyak melakukan kebaikan pada keluarganya, Lizzy makin nelangsa.

Dari beberapa review teman-teman, banyak yang menceritakan kebosanan membaca buku ini. Tapi anehnya saya malah menikmati buku ini. Yah… ada beberapa adegan yang terkesan dilebih-lebihkan, juga surat-surat yang berbelit-belit dengan kata-kata indah. Dan, ohya, kurangnya porsi antara Lizzy dan Mr. Darcy juga membuat saya mengurangi porsi bintangnya.

Don’t judge a book by it’s movie. Pepatah ini cocok buat pengalaman saya dengan Pride and Prejudice. Ternyata membaca bukunya memang lebih asyik dibandingkan menonton filmnya. Mungkin karena waktu itu saya tidak tahu apa-apa soal kisah roman ini. Dan sekarang setelah membaca bukunya saya malah jadi pengen nonton filmnya lagi.

Tiga bintang untuk Pride and Prejudice.

7 thoughts on “#69 Pride and Prejudice

  1. salam kenal sis…

    klo saya malah blm pernah baca novelnya, tapi suka filmnya. walaupun memang porsi cerita mr darcy n lizzy sedikit bgt. paling suka saat mr darcy yg cool tiba2 menyatakan cinta ditengah hujan deras.

  2. Pingback: #196 Three Weddings and Jane Austen |

  3. Aku suka filmnya tapi novelnya belum baca sih, dan pertama kali nonton udah ngerasa ini film membosankan. Tapi karena aku suka England apalagi London yah aku lanjutin aja nontonya dan ternyata ini film roman klasik. Pertama lihat pemeranya ada Keira Knightely dan ada juga Rosamund Pike mereka aktor England yang menurut aku cantik dan beda dari yang lainya dan di pestanya juga ada Matthew Macfadyen aku juga seneng sama aktor yang satu ini makanya aku lanjutin nontonya. Ternyata ceritanya kesalahpahaman antara dua pihak dan mereka saling suka tapi ada faktor ekonomi kelua Bennet dan disitulah konfliknya Mr.Darcy yang orang kaya menyukai Lizzy. Mr.Darcy yang pura2 nggak suka sama Lizzy akhirnya menyatakan cintanya aku suka pas Lizzy cemburu lihat Mr.Darcy memeluk yang disangkanya pasangan Mr.Darcy padahal adiknya Georgiana.

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s