#73 Letters To Sam

 Judul Buku : Letters To Sam

Penulis : Daniel Gottlieb

Halaman : 232

Penerbit : Gagas Media 

Jujur saja, saya tertarik membaca buku ini karena covernya. Dengan daun-daun maple, sebuah kursi goyang dan boneka. Pas banget dengan taglinenya “Pelajaran dari Seorang Kakek tentang Cinta, Kehilangan, dan Anugerah Hidup”. Sang kakek bernama Daniel Gottlieb, seorang psikolog keluarga. Kakek ini mempunyai satu orang cucu bernama Sam. Karena merasa senasib dengan Sam, akhirnya dia menulis surat-surat untuk mencurahkan isi hatinya kepada Sam. Harapannya suatu saat nanti Sam akan membaca surat ini dan bisa memahami akan keadaannya.

Daniel mengalami kelumpuhan dan harus duduk di kursi roda karena sebuah kecelakaan. Ketika dia mengetahui bahwa Sam menderita autisme, dia merasa perlu untuk mempersiapkan Sam menghadapi dunia nantinya. Surat-surat yang ditulisnya selalu berawalkan kalimat “Dear Sam”, dan berakhir dengan “Love, Pop” mengungkapkan rasa cinta seorang kakek kepada cucunya. Dalam buku ini, surat-surat tersebut terbagi menjadi enam bagian : Selamat Datang di Dunia; Tentang Keluargamu; Kau dan Aku, Sam; Tubuh, Pikiran dan Jiwa; Apa yang Menantimu; dan Tempatmu di Dunia. Saat membaca buku ini, saya merasa surat-surat itu tidak hanya ditujukan untuk Sam, tapi juga untuk saya. Seringkali saya membaca ulang beberapa bagian untuk lebih memahami kata per kata yang sebelumnya “menampar” saya.

Walaupun Sam divonis menderita autisme, Daniel tidak terlalu banyak membahas mengenai autisme di buku ini. Tapi dia melihatnya secara meluas yaitu bahwa seorang yang cacat fisik akan dipandang sebagai seorang yang berbeda. Hal ini yang diajarkan Daniel kepada Sam yaitu bagaimana menjadi seseorang yang berbeda.  Bagi Daniel yang sudah lebih dahulu mendapat label “berbeda” karena cacatnya, dia bisa mengatakan bahwa “Merasa berbeda” tidaklah sama dengan “menjadi berbeda”.

Sam, aku ingin kau tahu bahwa menjadi berbeda bukanlah masalah. Ini sekedar menjadi berbeda. Tapi, merasa berbeda bisa menjadi salah. Ketika kau merasa berbeda, perasaan itu bisa benar-benar mengubah caramu melihat dunia. — hal. 20

Berangkat dari perbedaan itu, Daniel pun mengulas mengenai rasa aman. Daniel mengatakan,

rasa aman yang sebenarnya hanya datang saat kita merasa nyaman dengan diri kita yang sesungguhnya — hal 156.

Sejauh apapun seseorang mencari rasa aman, dia tidak akan menemukannya selama dia belum menerima dirinya apa adanya. Daniel merasakan kepahitan dan keterpurukan ketika dia harus duduk di kursi roda dan tergantung pada orang lain. Lambat laun Daniel mulai bisa menerima apa adanya dirinya saat ini, dan dia ingin Sam juga bisa mamahami kondisi autis yang dideritanya.

 Dua hal di atas hanyalah sebagian kecil pelajaran yang bisa saya dapatkan dari buku ini. Rasanya hampir di setiap halaman ada kalimat-kalimat yang bisa diambil menjadi renungan untuk saya. Walaupun bertabur quote dan ajaran, ada beberapa bagian yang kurang sesuai dengan budaya Timur, misalnya mengenai pemahaman seks bebas yang umum dilakukan oleh anak laki-laki (di Barat) yang sudah dianggap dewasa. Latar belakang Daniel yang seorang psikolog membuat dia mengambil beberapa ajaran agama (Kristen, Yahudi, Sufi, Buddha) sebagai bahan pengetahuan untuk dia gunakan dalam pekerjaannya. Saya setuju dengan beberapa teman Goodreads yang menyarankan membaca buku ini dengan pikiran terbuka dan menyaring setiap pelajaran yang didapat didalamnya.

Empat bintang untuk surat-surat Sam.

2 thoughts on “#73 Letters To Sam

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s