#82 Memori

Judul Buku : Memori

Penulis : Windry Ramadhani

Halaman : 312

Penerbit : Gagas Media

Pertama kali mengenal karya Windry lewat Orange dan Metropolis (thanks to Sulis @peri_hutan), saya langsung suka dengan gaya menulis Windry. Dua novel tersebut punya nuansa yang berbeda. Yang satu dengan fotografi, dan yang kedua dengan nuansa mafia. Kali ini Windry menyajikan nuansa arsitektur dalam novel terbarunya. Buat yang tidak mengerti tentang dunia arsitek tidak perlu kuatir, karena Windry menceritakan dengan sangat ahli. Wajar saja, mengingat Windry sendiri adalah seorang arsitek.

Mahoni, seorang arsitek lulusan UI yang meninggalkan Indonesia menuju Virginia untuk melupakan masa lalunya. Selama empat tahun dia membangun karirnya di Amerika, tempat yang menjadi kiblatnya dalam dunia arsitektur, karena Mahoni sangat mengidolakan Frank O. Gehry. Dia sering diminta merancang butik atau gallery, dan banyak yang menyukai karyanya. Tapi keinginan terpendam Mahoni adalah merancang sebuah romance home.

Suatu kecelakaan mobil yang menewaskan papa-nya dan Grace (ibu tirinya) membuat Mahoni harus pulang ke Indonesia.  Rencana awalnya Mahoni hanya akan tinggal sehari saja untuk mengunjungi makam papanya, tapi Mahoni dengan terpaksa harus tinggal dua bulan demi menjaga adik tirinya, Sigi. Tinggal di rumah papa, menghadapi masa lalu dan kenangan buruk yang ingin dia kubur, membuat Mahoni tidak berkutik. Apalagi ketika dia bertemu dengan pria di masa lalunya, Simon. Sayangnya Simon sudah memiliki Sofia, lengkap dengan studio MOSS milik mereka berdua. Sekali lagi, sakit hati Mahoni terangkat ke permukaan.

Simon adalah teman semasa kuliahnya. Berbeda dengan Mahoni yang mengidolakan Frank O. Gehry, Simon memuja Rem Koolhaas. Walaupun demikian, Simon adalah partner berdebat dan berdiskusi yang setara dengan Mahoni. Dibalik, sikap sinis dan tidak peduli yang menjadi ciri khas Simon, dia ternyata mencintai Mahoni. Demikian pula dengan Mahoni. Tetapi ketika Simon meminta Mahoni ikut ke Belanda bersamanya, Mahoni malah kabur dan pergi dari Simon.

Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.
Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.
Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.
Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.

Kalimat di atas adalah tulisan yang terdapat di sampul belakang novel ini. Saya kira tulisan ini adalah apa yang ditanamkan Mae (mama Mahoni) kepada Mahoni. Ketidakpercayaan Mae terhadap suatu hubungan membuat Mahoni meyakini hal yang sama. Ketika Simon kembali menawarkan cintanya dengan memilih Mahoni, Mahoni kembali lari. Dia tidak ingin menjadi Grace. Dia tidak ingin Sofia mengalami hal yang sama seperti Mae.  Mae tenggelam dalam sakit hati ketika Guruh (papa Mahoni) memilih Grace dibandingkan dirinya. Guruh yang merasa tidak lagi ada kecocokan antara dirinya dan Mae, menemukan apa yang dia cari di dalam diri Grace. Ketertarikan mereka berdua terhadap kayu, membuat mereka menyatu. Sementara Mae tenggelam dalam dunia fiksinya yang getir dan pahit. Mae mengajak Mahoni meninggalkan rumah papanya, membuat Mahoni membenci papanya dan Grace dan apapun yang berhubungan dengan mereka, termasuk Sigi.

“Damar adalah kayu kesukaan Papa; bukan jati, nyatoh, atau sungkai; bukan pula Mahoni.”

Sigi (atau damar dalam bahasa Sumatera) adalah adik tirinya yang masih duduk di bangku SMA. Dengan caranya sendiri, Sigi menemukan kedewasaannya, bertindak sebagai saudara laki-laki yang ingin menjaga Mahoni, dan tanpa mereka (Sigi dan Mahoni) sadari mereka terhubung oleh suatu emosi yang dalam. Emosi yang membuat Mahoni tidak bisa meninggalkan Sigi begitu saja, walaupun itu demi impiannya bekerja sama dengan Frank O. Gehry.

“Sebaliknya, kau bisa mewujudkan impian seseorang dengan kompromi. Itu sesuatu yang kita lakukan setiap saat tanpa sadar, Di rumah. Dengan keluarga kita”

Membaca novel ini membuat saya merasa “penuh”. Novel ini bukan hanya tentang keluarga, pulang ke rumah, menghadapi masa lalu. Tapi yang terdalam adalah tentang kompromi. Merelakan sebagian impian demi orang lain, demi keluarga. Mahoni yang keras kepala, spesifik, dan ambisius berkali-kali harus berkompromi demi impian orang lain. Kompromi dengan keluarganya, kompromi dengan impiannya, bahkan kompromi dengan cintanya. Saya sendiri melihat ada Mahoni dalam diri saya, melakukan kompromi tanpa sadar terhadap beberapa hal dalam kehidupan saya untuk mewujudkan impian orang lain yang saya cintai.

Tidak terlepas dari isi ceritanya, novel ini dilengkapi dengan cover yang romantis, berwarna jingga dengan sebuah lukisan rumah bergaya klasik. Belum lagi pilihan kertas sampulnya yang bertekstur, menambah nilai plus untuk novel ini. Pokoknya highly recommended untuk dikoleksi (dan dibaca tentunya).

Lima bintang untuk Windry Ramadhina. Terima kasih, Win untuk memori-mu…🙂

5 thoughts on “#82 Memori

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2012 – Top 5 Best Book Covers « desty baca buku

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s