#85 The Coffee Shop Chronicles

Judul Buku : The Coffee Shop Chronicles

Penulis : Aditia Yudis dkk.

Halaman : 197

Penerbit : byPASS / nulisbuku

Bulan lalu, seorang kenalan memasang cover buku ini di halaman facebook-nya. Saya penasaran karena ada kata “coffee“. Kebetulan kenalan saya itu, mbak Maya Melivyanti, adalah salah seorang penulis dalam buku kumpulan flash fiction ini. Dari dialah saya membeli buku ini. Buku ini terdiri atas 33 flash fiction, yang ditulis oleh 22 orang dengan 1 benang merah. Demikianlah yang tertulis sebagai tagline di halaman cover.

Tadinya saya mau membaca secara acak, tapi menurut kata pengantarnya (saya selalu membaca kata pengantar terlebih dahulu setiap kali membaca buku) flashfic di buku ini saling berkaitan satu sama lain, dan dimulai dari kisah pertama berjudul Surat Cinta untuk Tuan Arsitek. Jadinya saya harus membaca secara berurutan. Dan benar saja, kisah-kisah ini saling berkaitan dengan satu benang merah, coffee shop.

Tersebutlah sebuah coffee shop di Jalan Malioboro, Yogyakarta, bernama Priya’s Coffee Shop. Pemilik kedai kopi ini adalah seorang wanita keturunan India bernama Noshi yang pergi meninggalkan mantan suaminya untuk mengejar passion-nya memiliki sebuah kedai kopi. Di dalam kedai kopi ini dalam waktu seharian terjadi 33 kisah yang melibatkan dirinya, pengunjung, dan barista kedai tersebut.

Kisah dibuka oleh sepasang suami istri yang mengunjungi kedai itu. Sang suami yang adalah arsitek sibuk dengan laptop dan aplikasi AutoCad, sedangkan istrinya yang adalah seorang penulis novel sibuk membaca sebuah novel. Keduanya larut dalam diam, tak ada suara. Tapi dalam diamnya mereka, ada komunikasi yang terjalin lewat sentuhan tangan mereka di bawah meja. Di dekat mereka ada seorang perempuan yang duduk mengamati pasangan unik ini. Selain itu ada juga pasangan traveller lengkap dengan ransel besar dan barang bawaan yang dicoba ditata ulang ke dalam ransel tersebut.

Semakin siang pengunjungnya semakin ramai. Ada dua orang wanita bersahabat yang berkenalan di dunia maya, ada dua saudara (kakak-adik) yang sudah lama tidak bertemu, ada seorang penulis bule, bahkan ada juga seorang wanita PSK yang baru saja pulang dari melakukan pekerjaannya. Sementara pemiliknya, Noshi mengamati pelanggannya, dia sendiri dikejutkan dengan kedatangan mantan suaminya yang menyusul ke tempat itu.

Membaca flashfic  membawa kesan tersendiri bagi saya. Saya menyukai kejutan-kejutan yang dihadirkan dalam sebuah cerita sangat pendek. Buku ini sendiri membawa ide segar dalam dunia fiksi, dimana beberapa flashfic terangkai menjadi satu cerita utuh, dan uniknya diceritakan oleh banyak orang. Saya membayangkan penulis kedua dan seterusnya berusaha merangkaikan kisah yang ingin ditulisnya berdasarkan yang sudah ditulis oleh penulis pertama. Penuh tantangan pastinya.

Sayangnya, menurut saya sajian dalam buku ini terasa tanggung bagi saya. Terkadang satu kisah hanya mengambil kisah sebelumnya dan menempatkannya sebagai latar belakang sekilas. Misalnya saja kisah Secangkir Ingatan, Kukirim Rindu ke Tanah Seberang, The Coffee Shop, dan beberapa kisah lainnya hanya memasukkan “laporan pandangan mata” kondisi dalam ruangan kedai kopi  itu sebagai penyambung dengan kisah sebelumnya. Laporan yang saya maksud misalnya seperti paragraf berikut.

Aku mengedarkan pandanganku seraya menunggu pesananku diracik, tempat ini memang selalu ramai. Aku melihat seorang lelaki dengan kekasihnya. Mereka berbicara dalam diam. Tangan mereka bertautan di bawah meja…. lalu di sudut lain aku melihat sepasang kekasih yang terlibat pembicaraan serius. (Hal 30).

Pengulangan yang terjadi berkali-kali dalam buku ini membuat saya nyaris bosan membacanya. Kemudian ada quote yang tercetak tebal di satu halaman penuh yang diambil dari kisah sebelumnya (Kisah si Mbah Tua, hal 159-163) tapi ada kata yang terhilang dan membuat makna yang berbeda. Entah ini kesalahan cetak atau memang disengaja.

Lalu pada kisah penutup (The New Owner) saya menangkap kesan terlalu dipaksakan. Kenapa harus ada pemilik baru? Kenapa nama kedainya harus terganti? Kenapa penggantinya malah hanya seorang nenek yang ahli membuat kopi tubruk jahe, sementara yang disajikan di kedai itu adalah jenis-jenis kopi secanggih cappucino, coffee latte, dan frappe? Saya tidak puas dengan penutupnya. Kalau kisah-kisah ini terpisah ga masalah, tapi kan dari awal ini sudah berupa rangkaian kisah?

Terlepas dari itu, buku ini cukup ringan. Sedikit melegakan isi kepala saya yang sempat kusut membaca fiksi gothic🙂 Dan ketika saya menutup buku ini saya jadi penasaran mau ke Malioboro, mau cari tahu adakah kedai kopi di sana yang kira-kira menjadi inspirasi buku ini? Tiga bintang untuk The Coffee Shop.

2 thoughts on “#85 The Coffee Shop Chronicles

  1. buku ini idenya keren, soalnya buku pertama versi FF yang gw baca😀
    apalagi banyak menu kopi yang bikin sangat pengen, mupeeeeng :O
    tapi sayang, harga buku ini walau tipis tapi mahal😦

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s