#87 Let The Right One In

Judul Buku : Let The Right One In

Penulis : John Ajvide Lindqvist

Halaman : 684

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Fiksi gothic menjadi pilihan baca bareng BBI bulan ini. Saya sendiri menyambut baik ide ini, karena saya merasa belum pernah membaca fiksi bertema gothic. Setelah mencari informasi di Goodreads, ternyata saya sudah pernah membaca beberapa fiksi gothic, diantaranya adalah Jane Eyre. Kebetulan di rak buku masih ada satu novel gothic yang belum dibaca, hasil beli dari Mia beberapa waktu lalu. Jadilah saya membaca “Let The Right One In” sebagai tugas bulan ini.

Oskar, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun tinggal di kota Blackeberg, Stockholm, Swedia. Dia tinggal bersama ibunya setelah kedua orang tuanya berpisah. Dia tidak punya teman, bahkan di sekolah dia menjadi korban bullying oleh teman-temannya. Oskar memiliki hobby mengumpulkan kliping artikel pembunuhan, mengutil di toko permen, dan bermain-main dengan pisaunya. Semua itu membawa perasaan nyaman baginya, menunjukkan bahwa dia punya keberanian melakukan sesuatu.

Kesendirian Oskar berakhir ketika Eli datang. Eli, seorang anak perempuan berusia kurang lebih sama dengan Oskar. Mereka hanya bisa berjumpa di malam hari. Seringkali Eli terlihat tua dan rapuh dengan rambut perak dan kulit yang kusam. Tetapi terkadang Eli terlihat sangat cantik dengan kulit putih bersinar. Eli tinggal bersama ayahnya di sebelah apartemen Oskar. Kedua apartemen itu hanya dipisahkan oleh sebuah dinding. Lewat dinding itu Oskar dan Eli sering berkomunikasi menggunakan kode Morse.

Hakan, yang disangka Oskar adalah ayah Eli, sebenarnya hanyalah seorang pemabuk yang kehilangan tujuan hidupnya. Ketika Hakan bertemu Eli, Eli terlihat begitu mempesona. Eli membutuhkannya, dan ia mencintai Eli. Dia mau melakukan apa saja untuk Eli. Termasuk mencari makanan berupa darah segar untuk Eli. Ya, Eli adalah seorang vampire berusia lebih dari dua ratus tahun yang terjebak dalam tubuh anak perempuan berusia 12 tahun. Untuk memperpanjang hidup Eli, Hakan akan membunuh orang untuk diambil darahnya.

Tetapi ada suatu waktu dimana Hakan tidak mau melakukan pembunuhan, meski Eli memintanya. Di saat itu Eli akan mencari korbannya sendiri. Namun Hakan harus memastikan si korban mati, jika tidak korban akan terinfeksi oleh Eli dan akan mejadi vampire. Ketika Hakan sibuk bekerja demi kelangsungan hidup Eli, Eli malah asyik bermain dengan Oskar sebagaimanya layaknya anak-anak. Hakan cemburu. Dia menginginkan Eli seutuhnya. Dia ingin menyentuh Eli, satu hal yang sangat  jarang diberikan oleh Eli. Ketika Eli menjanjikan kesempatan itu demi darah segar, Hakan langsung melakukan tugasnya. Sayangnya tugas itu tidak berhasil karena korban berteriak-teriak saat akan dieksekusi. Untuk menutup jejaknya, Hakan menyiramkan cairan asam pekat ke wajahnya.

Walaupun dalam novel ini tokoh utamanya adalah anak-anak, kisah ini sama sekali bukan bacaan yang pantas untuk anak-anak. Banyak adegan pembunuhan sadis dan horor di dalamnya, dan juga sedikit vulgar.  Pantaslah jika buku ini masuk kategori fiksi gothic. Saya sendiri sempat merasa jengah dan frustasi saat membacanya karena buku ini benar-benar bernuansa gelap. Padahal saya sudah pernah menonton film-nya, tapi membaca bukunya jauh lebih menyeramkan. Di samping itu, tebalnya buku ini sempat mebuat saya bosan. Inti ceritanya sih sederhana saja, tapi “bumbu-bumbu” kisahnya sangat banyak. Mungkin karena ingin menciptakan kesan gloomy tadi.  Tiga bintang saya anggap pas untuk novel gothic ini.

Film adaptasi novel ini yang pernah saya tonton berjudul “Let Me In“, yang versi Hollywood. Nama tokoh berbeda dengan di novel, begitu juga dengan setting lokasinya. Kalau di novel berlokasi di Swedia, di film lokasinya di New Mexico. Tapi wajah pemeran Owen (Oskar) dan Abby (Eli) di film itu memudahkan saya dalam mengimajinasikan kedua tokoh utama ketika membaca novelnya. Sebenarnya ada juga film versi Swedia dengan berjudul sama “Let The Right One In”. Jalan ceritanya juga mirip dengan di novelnya.

Poster film versi Hollywood

Poster film versi Swedia

Lalu kenapa judulnya “Let The Right One In”? Dalam bahasa Indonesia judul itu diterjemahkan menjadi  “biarkan aku masuk”. Ternyata seorang vampir baru bisa masuk ke dalam suatu rumah/tempat jika dia dipersilahkan masuk oleh pemilik rumah atau tempat itu. Kalau dia memaksa masuk tanpa dipersilahkan, maka dari setiap pori-pori di tubuh si vampire akan keluar begitu banyak darah, sampai vampire ini mati kehabisan darah.

Ohya, mau tahu novel gothic lainnya yang dibaca oleh anak-anak BBI? Silahkan cek timeline-nya @BBI_2011 di twitter. But be carefull, siapkan mental dulu ya… It’s spooky time :mrgreen:

12 thoughts on “#87 Let The Right One In

  1. Kalo ini sih asli serem, covernya anak2 tp dalamnya berliku2 dan tak terduga. Versi gotik seperti inilah yg sering bikin merinding. jd tahu alasan mengapa vampir tidak bisa masuk ke rumah orang yang tidak mengundangnya

  2. akhirnya kita bisa posting bareng ya mbaaak.. asli waktu baca buku ini agak stress gimana gitu saking suramnya. tapi bikin penasaran endingnya..🙂

  3. Gue udah nonton Let me in. Soalnya chloe moretz yang main sih..secara gue ngefans banget sama keimutan dia. Btw gue belum baca novelnya ini, tapi gue yakin kalau novel ini telah mengembalikan kuadrat Vampire sebagai makhluk yang pantas ditakuti. bukan seperti twilight yang menggambarkan vampire soooo…Gay. Kena matahari malah mengkilat-kilat kaya lampu disko🙂

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s