#89 Pengantin Surga

Judul Buku : Pengantin Surga

Penulis : Nizami Ganjawi

Halaman : 250

Penerbit : Dolphin

Saya teringat dengan percakapan beberapa tahun lalu bersama seorang sahabat saya. Entah apa yang kami diskusikan waktu itu, tapi sepenggal percakapan ini tetap saya ingat. Saya menanyakan pada dia, “kisah cinta mana yang menurutmu paling bagus yang pernah ada di dunia ini?“. Spontan dan tanpa ragu dia menjawab, “Layla dan Majnun“. Tidak berapa lama kemudian dia menyodorkan sebuah buku tipis bersampul merah pada saya. “Baca saja ini, nanti kamu juga bakalan mengerti“, katanya.

Kali ini saya kembali memegang buku yang berkisah tentang cinta abadi Layla dan Majnun (thanks to Penerbit Dolphin dan mbak Truly). Kisah terjemahan dari naskah asli-nya Layli O Majnun disajikan dalam bahasa sastra yang cenderung hiperbola yang pastinya membuat pembaca terbuai oleh permainan kata yang indah. Konon, cerita inilah yang mnginsirasi Shakespeare menulis Romeo dan Juliet dan menentukan perkembangan sastra Arab, Barat, India dan Nusantara.

Tersebutlah Qays, putra dari seorang penguasa Badui bernama Syed Omri. Kehadiran Qays di tengah keluarga Syed Omri sudah dinantikan dalam waktu yang lama. Sebagai putra tunggal, Qays mendapatkan perhatian penuh dari ayahnya. Dia pun dikirim untuk belajar pada guru yang khusus mengajar anak bangsawan. Di “sekolah” ini dia bertemu dengan Layla.

Hati siapa yang tak terpikat dan dirajam kerinduan ketika memandangi kembang padang pasir itu? Tetapi Qays merasakan lebih daripada itu. Ia hanyut dalam samudra cinta sebelum tahu bahwa ia mengalaminya. Diserahkannya hatinya kepada Layla sebelum ia paham apa yang telah diserahkannya. Dan Layla? Tak jauh beda! Seletik api telah menyala di relung hati keduanya, dan masing-masing hati mencerminkan wajah yang dicintainya.

Selayaknya orang yang sedang kasmaran, Layla dan Qays mabuk dan tenggelam dalam cinta mereka. Banyak orang yang cemburu dan dengki pada kedekatan mereka berdua. Beberapa fitnah mengalir. Akhirnya orang tua Layla melarang pertemuan mereka. Layla dikurung di perkemahannya dan dilarang berjumpa dengan Qays. Di sinilah Qays menjadi kehilangan akal sehatnya, bertingkah layaknya orang gila dan orang-orang menyebutnya Majnun.

Majnun dikucilkan oleh orang-orang karena tingkahnya. Tapi begitu dia mengucapkan syair cinta, semua orang akan datang untuk mendengarkannya. Majnun hidup menyendiri, tinggal di hutan, berteman dengan hewan. Kisah cintanya disampaikan lewat angin, surat, dan orang-orang yang mendengarkannya. Layla sendiri dalam kesepiannya tetap memendam cintanya pada Majnun.

Bukannya tidak ada usahauntuk mempersatukan mereka. Ayah Qays mendatangi ayah Layla, tapi ditolak. Sahabat Qays, Nawfal, bahkan berperang demi memperebutkan Layla dari kemah ayahnya tapi tidak juga berhasil. Layla justru dinikahkan dengan Ibnu Salam oleh ayahnya. Walaupun raganya telah menikah, hatinya hanya untuk Majnun.

“Memang aku telah bersuami. Hanya seorang suami, bukan kekasih, karena ia tak pernah kuizinkan menyentuhku! Percayalah kepadaku, hari-hari telah membuatku letih, tetapi tak seorang pun yang bisa merenggut berlianmu ini. Cintaku tetaplah suci, tiada ternoda, seperti kuncup bunga yang tak akan pernah terbuka.”

Dan Majnun membalasnya,

“Akulah debu yang menepel di kakimu. Engkaulah obat penawarku untuk ribuan luka. Engkaulah taman surgaku. Biarkanlah cintak kepadamu menjadi penjaga rahasia-rahasiaku. Selama dirimu tak terluka, segala penderitaan bukanlah apa-apa!”

Saya pribadi memahami kedalam cinta Majnun pada Layla, yang demi cinta dia rela mengorbankan dirinyadan mejadi “penguasa cinta” dalam keagungan. Dan ketika dia tidak mendapatkan cintanya di dunia, bersama pengantinnya dia menemukan cinta abadinya di surga. Seperti yang disebutkan oleh penerjemah di bagian akhir buku ini bahwa kisah ini bukan sekedar kisah cinta tak berbalas, namun cinta itu sendiri mentransformasikan pencintanya ke dalam persatuan mistik dengan Sang Kekasih.

Ohya, saya juga mengacungkan jempol pada penyunting buku ini. Kalimat-kalimatnya indah dan penuh makna dalam, membuat kita terasa dibawa ke masa hidup Nizami Ganjavi di Persia, tapi juga bisa jadi cermin untuk hidup kita sekarang. Satu penggalan yang saya temukan di halaman 139 bisa jadi bekal untuk kita semua.

Jangan mencari kepastian di dunia fana, sebab segala sesuatu akan sirna. Kau hanya akan menyesalinya nanti. tapi bila kau mati dari segala damba terhadap kehidupan ini dan membebaskan dirimu dari dunia yang merupakan setan berwajah malaikat, kau akan memasuki kehidupan abadi. dirimu adalah takdirmu; kematianmu, kehidupanmu. Yang baik akan kembali kepada yang baik, yang jahat akan kembali kepada yang jahat. Gema menyuarakan rahasiamu dari puncak-puncak gunung, mengungkapkan secara rahasia apa yang kau utarakan kepada dirimu sendiri.

One thought on “#89 Pengantin Surga

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s