#92 Bintang Bunting

Judul Buku : Bintang Bunting

Penulis : Valiant Budi

Halaman : 340

Penerbit : Gagas Media

Sebelum membaca buku ini, saya sudah pernah baca (entah dimana) sebelumnya bahwa membaca buku ini tidak seperti membaca novel-novel pada umumnya. Ada misteri yang tersimpan di setiap halamannya.  Membacanya juga harus hati-hati, ikuti petunjuk di masing-masing halaman. Makanya saya menunda sedemikian lamanya sebelum membaca buku ini. Nunggu waktu tenang *ahlasyan…*

Dan memang benar… waktu baca buku ini saya bingung sama alurnya, sama tokoh-tokohnya, sama kotak-kotak berisi cerita kriminal, sama gambar bintang-bintangnya. Khusus untuk gambar bintang-nya saya benar-benar ngasih perhatian penuh (sampai bolak-balik halaman untuk memastikan tidak ada yang terlewat oleh saya). Saya yakin gambar bintang itu bukan sekedar penghias antar paragraf atau antar sub-bab. Pasti ada maknanya. Dan bintang itu memang jadi kunci pembuka misterinya.

Audine, tokoh utama wanita, digambarkan sebagai wanita yang memiliki “kekurangan” (kalau tidak mau disebut gangguan) jiwa. Dia tidak bisa membedakan yang mana kenyataan dan yang mana mimpi. Bagi dia itu penyakit, yang membuatnya kehilangan pekerjaan dan kehilangan komunikasi dengan suaminya, Adam. Adam yang adalah seorang karyawan perusahaan advertising, bingung menghadapi istrinya. Di tengah kegalauannya,  Audine bertemu dengan Mada ( it’s anagram of Adam, isn’t it?) seorang peramal yang memberikan ramalan-ramalan tentang apa yang dia alami dan masa depannya. Lewat garis tangan, Mada meramalkan hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Audine. Tanpa disadari oleh Audine dia menjadi sangat tergantung pada Mada. Apapun yang diperintahkan Mada sedapat mungkin diikuti oleh Audine.

Jadi si Audine ini kadang-kadang bertindak spontan tanpa memikirkan dia sedang mimpi atau tidak. Misalnya ketika dia sedang mempersiapkan presentasi, tiba-tiba klien bule-nya melakukan pelecehan seksual. Audine terkejut. Tiga jam kemudian, ketika dia bertemu dengan klien-nya itu dia langsung menampar si klien karena emosi. Eh..ndak tahunya si klien marah karena dituduh melakukan pelecehan. Padahal tiga jam yang lalu dia sedang makan siang dan ada saksi yang menguatkan alibinya. Berkat “mimpi” Audine itu, Audine diberi SP2 oleh atasannya. Sudah kadung malu, Audine mengundurkan diri saja.

Karena sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan, Audine mulai membuat gambar-gambar bintang di secarik kertas. Setiap dia mengalami satu kejadian dia akan menarik satu garis di atas kertas. Kalau dia mimpi, tentu garis itu tidak akan ada saat dia bangun. Di sini pembaca akan “dipaksa” jeli untuk melihat garis-garis yang membentuk bintang itu, supaya tahu Audine lagi mimpi atau tidak. Tapi percayalah.. semakin anda jeli, semakin anda bingung. Setidaknya itu yang saya rasakan. Hingga melewati bab 7, saya memutuskan untuk berhenti mengamati bintang-bintang dan fokus pada ceritanya.

Itu tadi tiga tokoh utama dalam cerita Bintang Bunting ini. Selain mereka, ada Raeli sahabat Audine yang juga punya masalah dalam hidupnya. Walaupun demikian Raeli tetap menjadi tempat curhatnya Audine ketika dia bingung apakah dia sedang mimpi atau tidak. Yang mengganggu bagi saya, Raeli seakan-akan terlepan dari tokoh Audine, walaupun hampir sepanjang cerita mereka saling curhat-curhatan. Maksud saya, Raeli muncul dengan masalahnya sendiri, Audine dengan masalahnya dan keduanya punya porsi yang hampir sama. Perhatian saya jadi terpecah antara Raeli dan Audine. Padahal harusnya fokus ke Audine saja. Belakangan baru muncul alasan (yang terkesan dipaksakan) untuk menyambung antara keberadaan tokoh Raeli dan masalah yang dihadapi Audine.

Selain itu ada Miss Bling-Bling (a.k.a Kathy). Tokoh yang kadang muncul tiba-tiba ini awalnya hanya menjadi penghias di antara masalah Audine. Miss Bling-Bling digambarkan sebagai orang yang sewot akan penampilan Audine. Berkali-kali dia “muncul” hanya sebagai tukang kritik. Eh… ga tahunya Miss Bling-Bling posisinya dalam buku ini sama dengan gambar bintang-bintang tadi. Iya… dia jadi kunci pembuka misteri juga. Bagaimana perannya sebagai kunci pembuka? Ah… tidak usahlah. Nanti jadi spoiler😀

Saya selalu suka dengan tulisan Valiant Budi. Seperti di cerita Joker dan Kedai 1001 Mimpi, selalu ada kejutan yang disodorkan oleh Valiant Budi. Dan ternyata, sewaktu saya membaca blognya, ada hubungan antara ketiga novel tersebut. Sekali lagi kalau tidak jeli, kita akan sulit menemukannya. Well… tiga bintang (yang tidak bunting) saya gariskan untuk buku ini.

2 thoughts on “#92 Bintang Bunting

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s