#115 If I Lie

Judul Buku : If I Lie

Penulis : Corrine Jackson

Halaman : 276 (ebook)

Penerbit : Simon Pulse

Carey Breen dinyatakan MIA (Missing In Action) di Afganishtan. Semua penduduk kota tentu akan semakin membenci Sophie Quinn. Semua bermula ketika foto Quinn dan seorang pria sedang berciuman tersebar di internet. Tentu saja pria itu bukan Carey kekasihnya. Quinn dianggap mengkhianati Carey, pahlawan kota Sweethaven. Apalagi ketika Carey dinyatakan hilang, semua orang ingin mencari siapa yang harus disalahkan atas kejadian itu, dan orang itu tentunya Quinn.

Quinn sendiri tidak bisa membela dirinya, karena dia sudah berjanji untuk menyimpan rahasia Carey. Jika dia mengakui siapa pria yang ada di foto tersebut, dia juga harus membuka rahasia Carey. Kini ketika Carey hilang, Quinn hanya berharap agar Carey dapat ditemukan agar dia bisa terlepas dari beban ini. Blake, sahabat Carey dan Quinn, juga tidak banyak membantu. Blake, yang mengetahui siapa orang di foto itu (karena itu adalah dirinya), tidak bisa mengaku karena orang tua Carey sangat mengandalkan dirinya semenjak kepergian Carey. Blake tentu tidak mau membuat orang tua Carey semakin terluka sejak “pengkhianatan” Quinn.

Kenapa Quinn tidak mau berkata jujur? Dia punya trauma di masa lalu. Di usia 11 tahun, Quinn mendapati ibunya di tempat tidur dengan Uncle Eddy, adik ayahnya. Ibunya meminta Quinn untuk menutup mulut, tetapi Quinn menceritakan hal itu pada ayahnya. Dan lihatlah apa yang terjadi ketika Quinn membuka mulutnya, ibunya pergi meninggalkannya. Kehidupannya bersama ayahnya yang seorang marinir pun tidak mudah. Seperti halnya penduduk kota Sweehaven, ayahnya mengabaikannya, dan menganggap dirinya sama seperti ibunya yang seorang pengkhianat.

Sometimes a moment defines you, defines how people see you for the rest of your life.

Kisah dengan alur maju-mundur dari sudut pandang Sophie Quinn menceritakan tentang perjuangan Quinn menghadapi penolakan, kesedihan, dan beban orang lain yang harus ditanggungnya, Quinn menjadi dewasa dengan caranya sendiri. Selain itu buku ini juga bercerita tentang pejuang veteran perang. Quinn menjalani hari-harinya dengan bekerja sebagai sukarelawan pada The Veterans History Project, dimana dia berkenalan dengan seorang veteran George yang mengajarinya fotografi. Tugas mereka adalah mewawancari pejuang veteran dan mengumpulkan foto-foto mereka.

Saat saya membaca kisah ini, saya berkali-kali dibuat gemas oleh Quinn yang terus mengalami persitiwa yang tidak menyenangkan karena rahasia yang disimpannya. Tapi di akhir cerita saya bisa memahami pilihan yang diambil oleh Quinn. Saya juga suka dengan covernya yang minimalis tapi bisa bercerita banyak hal.

Empat bintang untuk Sophie Quinn.

2 thoughts on “#115 If I Lie

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s