#126 Menunggu Pulang

Judul Buku : Menunggu Pulang

Penulis : Suryawan Wahyu Prasetyo

Halaman : 133

Penerbit : Nulis Buku

Saat menerima buku ini dari Dion, saya langsung tertarik dengan covernya. Menarik karena gambarnya terbalikūüôā Setelah dicermati, gambarnya masih sesuai dengan tema yang diusung dalam kumpulan cerpen ini. Pulang.

Hidup sejatinya adalah menunggu pulang. Sementara pulang adalah sebuah perjalanan menuju temat yang dirindukan, rumah. Namun pulang tak akan terjadi tanpa pergi yang mendahului. Akan ada saatnya untuk kita pulang. Akan ada banyak kisah untuk diceritakan, sampai waktunya pulang tiba.

Penggalan kalimat di sampul belakang menjadi pengantar sebelum membaca 18 cerpen yang ditulis oleh Yuya. Hampir semuanya bercerita tentang kepulangan, entah itu kembali kepada keluarga, rumah, negara, bahkan kepada Penciptanya.

Cerita pembuka, Atas Nama Kusta Aku Cemburu adalah kisah pertama yang membuat saya penasaran. Seorang pemuda penderita kusta cemburu ketika gadis yang disukainya, sesama penderita kusta РReda, mengatakan ingin mengirim surat pada seseorang. Bagaimana mungkin sebuah surat memicu kecemburuan? Bisa saja, karena surat itu ditulis dengan semangatnya oleh Reda. Semangat yang bukan berasal darinya. Akankah rasa yang dimilikinya berpulang padanya? Masalah perasaan kembali diangkat dalam kisah Berdua di Suatu Senja, Asmaradana, Sedingin Es, dan Memenangkan Medali. Bahkan ketika perasaan itu tidak berpihak, ada saja hal yang kembali pulang, meskipun itu hanya sebuah kenangan.

Bambu Runcing dan Agustus yang menyinggung tentang perjuangan kemerdekaan diceritakan dengan apik oleh penulis. Bahkan yang berbau etnis seperti Imlek, Aku Pulang dan Fatima terasa ringan tanpa tendensi menyudutkan golongan tertentu. Saya mengapresiasi bagaimana penulis melihat fenomena yang terjadi di masyarakat kita dan menuliskannya dalam cerpen yang singkat tapi mengena.

Diantara 18 kisah ada dua yang saya favoritkan. Yang pertama adalah¬†Curhat Saat Kau Lelap. Dikisahkan dengan gaya monolog tentang “aku” yang ingin menjadi “rumah” bagi seseorang dan bukan hanya sekedar tempat persinggahan. Tetapi “aku” hanya berani mengatakannya saat yang dinantikannya pulang terlelap.

Saat-saat seperti ini, adalah saat aku berharap menjadi tempatmu pulang, bukan singgah. Saat-saat seperti ini adalah saat aku berani bilang “Aku cinta kamu”.

Yang kedua adalah Kita Yang Tak Sama. Terinspirasi dari film cin(T)a, penulis mengangkat cinta yang harus berakhir antara Arina dan Theo. Bukan karena menyerah, tetapi karena mereka tidak ingin menipu Tuhan.

Siapa bilang pulang selalu menyengangkan? Ada berapa di antara kita yang masih mengatakan, Aku Takut Pulang, ketika kita diharuskan pulang oleh-Nya? Kisah penutup yang membuat pembaca (termasuk saya) jadi merenungi kembali arti kata pulang.

Saya salut kepada penulis yang konsisten dengan satu tema dalam berbagai variasi kisah yang diangkatnya dalam kumpulan cerpen ini. Karena menurut saya hal itu tidak mudah. Dan jika anda masih ingin membaca lebih lanjut cerpen-cerpen yang ditulis oleh Yuya, silahkan mengunjungi blog-nya, yang juga menjadi akar terbitnya buku ini.

Tiga bintang untuk Menunggu Pulang.

6 thoughts on “#126 Menunggu Pulang

  1. hadeuuuh enaknya bisa pinjam-pinjaman bukuuu.. Aku juga penasaran sama buku ini gara2 reviewnya Dion. Follow blog penulisnya dulu aja deh. Kayaknya seru juga. hehe

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s