#127 Tofi : Perburuan Bintang Sirius

Judul Buku : Tofi : Perburuan Bintang Sirius

Penulis : Prof. Yohanes Surya, Ellen Conny dan Sylvia Lim

Halaman : 856 (draft edition)

Penerbit : Penerbit Kandel

Siapa yang tidak mengenal nama besar Prof. Yohanes Surya? Saya sendiri sudah mengetahui nama besar beliau sejak SMA. Dulu, entah karena guru Fisika di sekolah kami yang terobsesi dengan Olimpiade Fisika, kami selalu diminta mengerjakan soal-soal Olimpiade Fisika. Bahkan buku yang diterbitkan khusus untuk latihan Olimpiade Fisika menjadi buku acuan kami. Tidak sia-sia, salah seorang teman kami yang sangaaat mencintai fisika (sampai pernah diskors gara-gara selalu mengerjakan soal-soal fisika di saat belajar bidang studi lain) akhirnya berhasil meraih medali emas di Olimpiade Fisika se-Asia Afrika pada tahun 1999. Dan sekarang, berkat fisika dia sudah menjadi seorang Doktor di bidang Particle, Hadronic Physics. Efeknya untuk saya? Saya semakin tidak menyukai fisika yang rumit😀

Tetapi ketika saya mendapat info di sini bahwa beliau menulis sebuah novel, tentu saja saya segera mengajukan diri sebagai salah satu reviewer. Lumayan dapat novel gratis, walaupun dalam bentuk draft dan tidak ada tanda tangan sang Profesor seperti yang sudah dijanjikan. Novel ini adalah bagian pertama dari Trilogi Tofi. Untuk versi draft, novel ini dibagi menjadi 2 buah buku (mungkin karena tebalnya mencapai 831 halaman). Dengan ketebalan seperti itu, novel ini langsung mengingatkan saya kepada serial Harry Potter. Saat membacanya pun saya tidak bisa tidak membandingkannya dengan Harry Potter. Mungkin karena misi dalam novel ini adalah mencari cincin Newton (di Harry Potter juga ada kan soal cincin yang jadi hocrux itu?), dan ada salah satu tokoh bernama Hadesha yang mengingatkan saya pada Prof. Snape.

Novel ini diawali dengan pengenalan para tokoh. Tokoh utama adalah Tofi, anak seorang ilmuwan pemenang Nobel Fisika, Prof. Albed Yomosi. Tofi bersekolah di Odyssa College, sebuah sekolah khusus para ilmuwan (fisika) di sebuah pulau di Indonesia bernama Pulau Kencana. Sayangnya dalam buku ini tidak dicantumkan peta yang menunjukkan letak pulau itu. Pulau Kencana ini adalah pulau yang khusus dirancang oleh para ilmuwan, di mana kehidupan di dalamnya sangat canggih dengan menggunakan banyak peralatan berteknologi nano, serta bebas polusi dan penyakit. Bayangkan, untuk masuk belajar di sekolah itu saja harus melewati sensor dari sebuah robot yang akan mendeteksi kesehatan. Kalau menderita flu atau demam, siswa tidak boleh masuk ke dalam sekolah.

Tofi diceritakan sedang galau. Karena statusnya sebagai anak seorang ilmuwan ternama, maka dia selalu merasa dibayang-bayangi oleh nama besar ayahnya. Hal ini membuat dia tidak bisa menjadi remaja normal, sehingga dia sering membuat kekacauan di sekolah. Tapi Tofi adalah anak yang pandai. Hanya dia dan Jupiter (saingannya) yang selalu diunggulkan di sekolah itu. Bedanya Jupiter yang anak walikota, selalu merasa lebih di atas semua siswa karena kekayaannya. Tidak heran Jupiter dan  gank-nya selalu mem-bully teman-teman mereka yang lemah. Persaingan antara Tofi dan Jupiter juga bersaing untuk menjadi ketua Fosfor (Futuristic Outstanding Science for Teens), sebuah klub studi bergengsi di sekolah mereka. Persaingan makin sengit ketika Miranda, seorang gadis primadona datang ke sekolah mereka. Jupiter suka pada Miranda, sementara Miranda sepertinya lebih menyukai Tofi. Ketika Miranda akhirnya terpilih sebagai ketua Fosfor, Jupiter semakin berusaha mendekati Miranda.

Salah satu program dari klub Fosfor adalah mengikuti Science To Generation (STG) demi mendapatkan dana sebesar 25,000 dollar. Dana itu sangat penting untuk membiayai penelitian-penelitian yang akan dilakukan oleh klub Fosfor. STG sendiri adalah lomba fisika bertaraf nasional yang akan diikuti juga oleh beberapa kontestan dari provinsi lain. Tofi dan tim-nya terpilih untuk mengikuti STG. Di dalam lomba itulah Tofi menghadapi persoalan utama.

Di lomba STG, tim Pulau Kencana berhadapan dengan tim dari Kalimantan Barat, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Papua. Mereka dituntut menyelesaikan berbagai persoalan fisika yang tidak hanya mengandalkan otak, tapi juga fisik dan hati mereka. Di dalam lomba yang cukup menegangkan dan seru ini, mereka semua belajar menghargai kode etik seorang ilmuwan, agar nantinya di masa yang akan datang merka menjadi ilmuwan yang bertanggung jawab dan tentunya menghargai semesta dan sesama.

Itu saja? Tentu tidak. Di balik semua yang dialami Tofi ada satu konflik yang melibatkan banyak ilmuwan fisika dari berbagai negara.  Tanpa sengaja, Tofi menemukan sebuah cincin Newton yang merupakan senjata rudal berukuran nano yang bisa merusak DNA korbannya. Cincin ini tidak boleh jatuh ke tangan ilmuwan yang jahat. Ada banyak penyusup, penyamaran, dan rahasia yang tentu saja membahayakan nyawa semua yang terlibat di dalamnya.

Pada dasarnya saya mengapresiasi novel science yang mencoba “memasyarakatkan” fisika, yang dikenal sebagai ilmu yang sulit dan tidak mudah dijangkau. Hanya saja saya menemukan beberapa hal yang mengganggu saya selama membaca novel ini. Saya hanya penikmat novel yang awam dengan semua ilmu fisika🙂

Yang pertama adalah penggunaan nama-nama tokoh yang diambil dari nama-nama ilmuwan fisika, nama planet, satelit, bintang, dan beberapa istilah di bidang fisika. Namanya tidak masalah, tapi penjelasan beberapa nama yang selalu diulang-ulang di sepanjang novel membuat detil yang mengganggu. Misalnya nama Jupiter sebagai planet terbesar, atau Miranda dari nama satelit Uranus.

Yang kedua, seperti yang sudah saya sebutkan di atas tidak ada kejelasan di mana letak pulau Kencana ini, dan novel ini terjadi pada tahun berapa? Saat membaca di awal, saya mengira novel ini bersetting suatu waktu di masa yang akan datang ketika teknologi nano dan kuantum menjadi sesuatu yang sudah sangat aplikatif, digunakan dalam berbagai macam peralatan dalam kehidupan manusia. Tetapi di halaman 186, peserta STG dari Surabaya mengeluh karena lokasi lomba tidak dilengkapi dengan internet sehingga mereka tidak bisa mengupdate status si facebook, twitter dan BBM. Juga ketika peserta dari Kalimantan Barat mengeluh tidak pernah menggunakan internet, tidak tahu apa itu modem dan access point. Bahkan peserta dari Papua yang mengklaim mereka tidak pernah menggunakan sepeda karena mereka bukan anak bupati. Well, kalau ada bagian wilayah Indonesia yang sedemikian canggihnya sementara pulau Kalimantan tidak terjangkau internet dan di Papua kenderaan bernama sepeda terbatas untuk orang kaya, itu adalah hal yang absurd menurut saya. Kita tahu kesejahteraan di Indonesia tidak merata, tetapi apakah iya pemerintah tega berbuat seperti itu? Seberapa penting sih sebuah pulau berteknologi tinggi penuh ilmuwan, jika ada wilayah (yang jelas-jelas ada di peta) malah terbelakang? Saya mengerti novel ini masuk dalam genre fantasy, tapi maafkan saya jika fantasy saya menolak hal tersebut. Setidaknya di novel ini digambarkan bahwa peserta dari Papua dan Kalimantan Barat tadi punya semangat yang tinggi di tengan ketertinggalan mereka.

Yang ketiga, penggunaan kalimat-kalimat panjang yang tidak efektif. Saya kasih satu contoh, di halaman 85.

Tik! Tik! Tik! ….. Tetes-tetes hasil evaporasi siklus air telah kembali mengguyur bumi dengan hawa dinginnya.

Aduh.. bilang saja hujan, lebih singkat kan?🙂 Masih banyak lagi sih, tapi saya berhenti membuat catatan di halaman 100 karena memutuskan untuk mencoba menikmati novel ini.

Yang saya suka dari novel ini adalah ketika tim penulis mencoba memasukkan kisah hidup para ilmuwan Fisika yang jarang didengar orang, misalnya cinta pertama Newton, hidup Faraday yang adalah orang miskin tapi bisa menemukan sesuatu yang penting di dunia fisika, atau tentang ilmu perbintangan yang menarik untuk diikuti. Bagian yang paling saya suka adalah dialog antar planet yang mencemooh Pluto karena diturunkan pangkatnya dari planet menjadi asteroid😀

Saya berharap novel ini bisa membuat lebih banyak anak muda tertarik untuk lebih mengenal dunia science secara umum atau fisika secara khusus. Novel ini juga menyadarkan saya kembali arti penting menjadi seorang ilmuwan.

Kita yang menyebut diri ilmuwan, memang tidak sempurna. Tetapi bukan itu menahan kita apalagi menjadikannya alasan untuk berhenti belajar!

Pulanglah dan buatlah seusatu! Tak perduli apakah kau menang atau kalah! Buatlah sesuatu untuk sekolahmu! Buatlah sesuatu untuk bangsamu! Karena lewat diri kita Indonesia pasti berjaya!

Tiga bintang untuk Tofi.

One thought on “#127 Tofi : Perburuan Bintang Sirius

  1. Wah, saya baru tahu kalau ada novel fantasi yang menarik nih. Kebetulan saya sedang ingin memperbanyak literatur novel fiksi. Khususnya karya anak bangsa.
    Reviwenya menarik. Jeli terhadap hal-ha yang tidak sesuai. Jujur kadang-kadang saya tak bisa menilai kekekurangan sebuah karya. saya hanya menikmati tulisannya. sangat tidak objektif.
    ^_^

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s