#148 Montase

16300774

Judul Buku : Montase

Penulis : Windry Ramadhina

Halaman : 368

Penerbit : Gagas Media

Beberapa waktu yang lalu saat saya sedang membaca novel romance, saya sempat bertanya-tanya. Ada ga ya novel romance yang diceritakan dari sudut pandang tokoh laki-laki secara utuh dari awal sampai akhir novel? Jarang sekali saya menjumpai novel seperti itu. Biasanya cerita cinta ditulis dari sudut pandang perempuan yang lebih mementingkan perasaan daripada logika. Ketika saya membuka lembaran pertama novel Montase, dan menemukan apa yang saya cari tadi di novel Montase ini, saya jadi gembira. Dan ketika saya menutup lembaran terakhir novel ini, perasaan yang sama masih ada dalam hati saya.

Montase, diceritakan dari sudut pandang seorang Rayyi. Pemuda anak pengusaha film, Irianto Karnaya, yang selalu membuat film dan sinteron  laris di Indonesia. Seperti halnya Punjabi, Karnaya ingin membentuk dinasti di dunia sinema Indonesia. Untuk itu, anaknya disekolahkan di IKJ, Fakutas Film dan Televisi, Peminatan Produksi. Dengan harapan, Rayyi akan melanjutkan usaha milik ayahnya.

Sayangnya, minat Rayyi tidak pada film laris tapi murahan itu. Dia lebih menyukai film dokumenter. Walaupun kuliahnya di Peminatan Produksi, dia lebih sering masuk kuliah di Peminatan Dokumenter. Adalah ibunya yang mengenalkannya pada film The Man With A Movie Camera oleh Diziga VertovFilm yang kemudian membuatnya jatuh cinta pada film dokumenter. Ketika Samuel Hardi, sineas dokumenter ternama di Indonesia mengajar di Peminatan Dokumenter, Rayyi tidak melewatkan kesempatan itu. Bersama ketiga temannya, Sube, Bev dan Andre mereka menyelinap masuk ke kuliah tanpa kredit demi mendapat ilmu langka dari Samuel Hardi.

Di saat yang bersamaan, Haru Enumoto, juga mengambil mata kuliah tersebut. Haru adalah mahasiswi Tokto Zokei University Jepang yang sedang kuliah di Indonesia. Berbeda dengan Rayyi dan teman-temannya, Haru memang mengambil Peminatan Dokumenter. Rayyi penasaran dengan gadis boneka kokeshi itu. Selain fakta bahwa Haru mengalahkannya di festival film doumenter yang diadakan oleh Greenpeace, Haru juga menjadi penyebab insiden kecil di awal kuliah Samuel Hardi yang membuat Rayyi mendapatkan peringatan dari Samuel.

Tugas kuliah dari Samuel Hardi-lah yang mendekatkan Rayyi dan Haru. Mereka diminta membuat film dokumenter “observasi” berdurasi pendek. Berdasarkan ide dari Andre, Rayyi akan membuat film tentang Haru. Tanpa disangka, sosok Haru di balik kamera membuat Rayyi jatuh cinta. Boneka kokeshi yang imut itu berubah menjadi peri Lili yang manis. Senyumnya yang selebar perahu naga selalu membuat Rayyi berdebar-debar. 

Lantas, apakah kisah cinta itu saja dalam novel Montase ini? Tidak. Pertentangan batin Rayyi antara impiannya dan keinginan ayahnya yang sebenarnya menjadi permasalahan dalam Montase. Kalau di hadapan teman-temannya (dan Haru) Rayyi adalah sosok pejuang, di hadapan ayahnya Rayyi justru melempem. Patuh pada apa yang sudah digariskan oleh ayahnya. Ketika Samuel Hardi menawarkan Rayyi untuk magang di rumah produksinya, Rayyi justru menolak karena harus magang di tempat ayahnya. Apakah impian ayahnya lebih besar daripada impiannya sendiri?

“Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan?”

Windry Ramadhina adalah salah satu penulis muda Indonesia yang karyanya selalu menghadirkan nuansa baru. Kali ini Windry mengangkat dunia sinema dokumenter sebagai latar belakang dalam kisah Montase.  Walaupun tidak dikupas secara tuntas (misalnya, alasan kenapa filmnya Haru menang festival mengalahkan film milik Rayyi), tetapi nuansa baru ini sangat menyegarkan untuk saya. Windry juga menyelipkan beberapa kosakata Jepang di dalam novel ini yang membuat saya beberapa kali mencari artinya di internet. Saya juga dibuat jatuh cinta pada covernya yang unik, tanpa warna dan seperti sketsa pensil. Sosok Rayyi dan Haru menjadi satu dalam cover yang manis itu. Rayyi terwakilkan oleh gambar pita seluloid, sementara Haru lewat sketsa pensil.

Saya lantas bartanya, apa makna dari Montase? Karena sama sekali tidak dijelaskan dalam novel ini, terpaksa saya mencari (lagi) di internet. Dan ini yang saya temukan dari sumber ini.

mon·ta·se 1 komposisi gambar yg dihasilkan dr pencampuran unsur beberapa sumber; 2 karya sastra, musik, atau seni yg terjadi dr bermacam-macam unsur; 3 gambar berurutan yg dihasilkan dl film untuk melukiskan gagasan yg berkaitan; 4 pemilihan dan pengaturan pemandangan untuk pembuatan film

Lima bintang untuk Montase.

3 thoughts on “#148 Montase

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s