#185 Aku Kartini Bernyawa Sembilan

akukartinibernyawasembilankumpulancerpen_26106

Judul Buku : Aku Kartini  Bernyawa Sembilan

Penulis : ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)

Halaman : 164

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Pertama kali saya melihat buku ini adalah lewat twit-nya Nike (@dreeva). Karena tertarik dengan judulnya, saya langsung menelusuri twitter itu, dan sampailah saya ke akun milik mbak Ayu Oktariani (@ayuma_morie). Beliau ada salah satu aktivis IPPI (Ikatan Perempuan Positif  Indonesia). Apa itu IPPI? Silahkan mengunjungi website-nya di sini. Ternyata buku ini berisi kumpulan kisah perempuan yang juga adalah ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Tanpa berpikir panjang saya langsung membeli buku ini via mbak Ayu.

Cukup lama tersimpan di dalam lemari, buku ini menyita pandangan saya semalam. Berhubung sudah bulan April, saya merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk membaca buku ini. Bukan hanya karena judulnya Kartini, tetapi juga karena buku ini bercerita tentang perempuan-perempuan hebat. Kenapa saya bilang hebat? Karena walaupun mereka hidup dalam vonis penyakit yang belum bisa disembuhkan, tetapi semangat mereka untuk berkarya tidak surut.

Buku ini berisi 11 cerita pendek dari 9 perempuan ODHA, ditambah 6 tulisan dari penulis ternama (Cok Sawitri, Oka Rusmini, Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami dan Dewi Lestari) yang menjadi tentor penulisan kreatif bagi perempuan ODHA. Cerita pendek yang ditulis oleh perempuan ODHA ini merupakan hasil seleksi dari seluruh tulisan ODHA di Indonesia.

Salah satu cerita yang saya suka adalah yang berjudul sama dengan buku ini, “Aku Kartini Bernyawa Sembilan” yang ditulis oleh R.A. Kartini. Iya.. namanya Raden Ajeng Kartini. Lahirnya juga 21 April. Tetapi karena suatu peristiwa di masa kecilnya yang hampir membuatnya meninggal, namanya diganti menjadi Rezerdia Ardiana Kartini. R.A. Kartini telah mengalami 8 kali peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya. Mulai dari keracunan ASI waktu bayi, terkena demam berdarah, jatuh dari lantai 3, ditabrak motor, jatuh dari bus, terkena herpes sampai lumpuh, tertular HIV, sampai saat suaminya meninggal dunia. Okey, peristiwa terakhir mungkin tidak nyaris mrenggut nyawanya secara harafiah, tetapi kehilangan suami itu sama saja kehilangan separuh jiwa. Kisah meninggalnya suaminya cukup unik. R.A. Kartini benar-benar rela dan ikhlas akan kepergian suaminya yang telah lama menderita akibat HIV. Tetapi adat keluarganya yang berasal dari Batak, mengharuskannya meratapi jenazah suaminya selama 3 hari. Walaupun dalam hatinya dia memuji Tuhan karena suaminya sudah dipanggil oleh-Nya, dia terpaksa harus berakting menangis meraung-raung di depan tamu dan keluarganya🙂

Kita mungkin sudah tidak lagi menghindari ODHA, tetapi seringkali kita menutup mata, mulut dan telinga terhadap kisah mereka atas nama kasihan atau iba. Namun hal yang menarik yang saya temukan dalam buku ini adalah para ODHA tidak merasa perlu dikasihani. Tidak ada kesedihan dalam buku ini. Mereka bahkan memanfaatkan momentum dari virus mematikan ini untuk menjalani “hidup baru” dengan semangat yang tidak padam. Dan bersyukurlah saya yang mendapat bagian semangat itu hanya dengan membaca buku ini.

3 stars

15 thoughts on “#185 Aku Kartini Bernyawa Sembilan

  1. Wah, kayaknya buku keren… dan wow bgt seseorang bernama sama dg RA Kartini dan lahir di tanggal yg sama tapi beda tahun😀

  2. sepertinya buku ini menarik untuk dibaca, apalagi untuk kaum perempuan. wah.. makasih kak udah kasih review buku ini. gomawoooo🙂

  3. Aduh, aku jadi penasaran juga pengen baca. Kemarin sempet jadi volunteer untuk acara HIV/Aids. Memang kasian banget, seharusnya ODHA tidak dijauhi karena orangnya sendiri tidak menular. Kepedulian pemerintah buat ODHA bisa dibilang kurang banget. Semoga buku ini bisa bikin yang lain ‘melek’ ya O:)

  4. ini buku nonfiksi ya? Jadi penasaran sama bukunya. aku selalu ingin tahu bagaimana para ODHA bisa menjalani hidupnya seperti biasa/dapat menerimanya dengan tegar.. dan rupanya ada jg ya orang yg namanya persis R.A. Kartini

  5. Jadi buku ini kisah nyata ya?
    unik jg klo namanya jg sama dengan RA Kartini yah..

    klo masalah ODHA, aku jg bingung harus bersikap gimana jika menghadapi mereka, misal salah satu keluargaku.
    krn kebetulan emg blm pernah berhbungan langsung dg penderita ODHA. tp bener kata kamu, kita jgn menghindari mereka.

  6. Halo saya ingin bertanya, dimana lagi saya bisa membeli buku ini? Karena saya sudah mencari di Gramedia katanya sudah tidak dicetak lagi. Mohon bantuannya. Karena saya ada tugas untuk menulis resensi dari buku ini.
    Terima kasih🙂

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s