#217 Mencari Tepi Langit

tepi-langit

Judul Buku : Mencari Tepi Langit

Penulis : Fauzan Mukrim

Halaman : 284

Penerbit : Gagas Media

Senja Senantiasa, seorang wartawan yang dihubungi oleh Horizon Santi, gadis yang ingin mengetahui asal-usul dirinya. Santi menerima sebuah email dari seseorang bernama Tepi Langit yang menceritakan beberapa kisah 11 September kepadanya. Kalau bukan karena dia ulang tahun pada tanggal tersebut, mungkin Santi menganggap email itu sekedar spam saja. Dari upayanya mencari tahu, dia menjumpai fakta bahwa dia diadopsi oleh orang tua yang selama ini dianggapnya orang tua kandung. Salah satu keterangan yang berhasil diperoleh Santi adalah bahwa dia berasal dari Makassar. Untuk itu dia menghubungi Senja, wartawan yang dia tahu berasal dari Makassar, dengan iming-iming berita tentang NMT (Nurdin M Top). Kesepakatan antara Santi dan Senja tercipta. Senja akan membantu Santi mencari tahu siapa Tepi Langit itu, dan dimana kedua orang tua kandungnya.

Tapi isi dari novel ini bukanlah perjalanan Senja mencari Tepi Langit. Novel setebal 284 halaman ini lebih mirip koran berisi berbagai cerita tentang peristiwa terorisme di Indonesia. Selain itu ada juga segelintir kisah tentang siapa Senja, mengapa dia begitu antusias mencari NMT. Soal Senja dan Santi hanyalah pemanis saja. Lalu bagaimana dengan Tepi Langit? Meski dia sering muncul di awal bab, Tepi Langit a.k.a Wiring Bittarae baru ketahuan wujudnya mendekati akhir kisah.

Seddimi laleng tenriola, wiring na mi bittarae  

(Hanya satu jalan yang tak bisa kau tempuh, hanya tepian langit)

Lantas apa yang saya rasakan ketika membaca novel ini? Reaksi pertama adalah “novel apaan sih ini?“. Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, saya seperti disodorkan berbagai macam potongan berita. Tetapi Bubin Lantang sudah berpesan dalam endorsement yang diberikan di buku ini.

Ada banyak hal di kisah ini sehingga mungkin nggak banyak orang-selain wartawan- yang bisa ‘bertahan di pelana ketika kuda itu berjingkrak liar’

Syukurlah saya bukan orang kebanyakan ketika saya pada akhirnya mendapati diri saya menikmati setiap kalimat yang ada di dalam novel ini. Kalimat yang membuat saya berpikir, berusaha mencerna, dan akhirnya bisa menelannya dengan rasa puas. Baik dialog maupun non-dialog hampir semua bisa dijadikan quote. Tapi bukan jenis yang mendayu dan mengharu biru. Akhir kisahnya sendiri membuat saya “terpaksa” setuju, karena novel ini rasanya memang sulit untuk diakhiri. Mengutip kalimat terakhir dalam novel ini, “sudahlah… kalau begitu kita tamatkan saja“.

4 stars

Postingan ini dibuat untuk #UnforgotTEN Project No. 7

banner

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s