#232 Restart

restart cover

Judul Buku : Restart

Penulis : Nina Ardianti

Halaman : 456

Penerbit : Gagas Media

Moving on bukan artinya aku melupakan semua hal yang terjadi di antara kita. Ini artinya aku menerima apa yang terjadi, dengan ikhlas dan melanjutkan hidupku.

Sudah sering saya mendengar atau membaca istilah move on. Tapi baru kali ini saya menemukan pengertian yang benar-benar mengena di benak saya. Syiana menggunakan istilah itu ketika Yudha, mantan pacarnya, meminta untuk diberikan kesempatan kedua. Sejak Syiana menemukan Yudha di kamar hotel dengan seorang wanita, Syiana langsung memutuskan hubungan dengan Yudha. Masalahnya, rasa sakit hati karena dikhianati itu tidak bisa dilupakan begitu saja. Syiana memutuskan untuk memulai kembali perjalanan cintanya dari awal.

Adalah Fedrian, gitaris band ternama Dejavu, yang mengambil alih hati Syiana. Bagi Fedrian, Syiana yang memegang prinsip hidup “I have black belt in sarcasm” adalah pasangan yang seimbang dan tepat untuknya. Tidak mudah meyakinkan Syiana untuk menjadi kekasihnya, apalagi dalam dunia keartisan yang penuh ketidakpastian. Tetapi siapa yang bisa menolak body peluk-able dan tatapan tajam Fedrian, salah satu Most Eligable Bachelor in Indonesia? 

Meski sudah berusaha mencoba membina hubungan dengan Fedrian, Syiana masih merasa ada yang tidak tepat. Bukan karena Fedrian yang tidak terbuka dengannya, atau karena Syiana merasa dia selalu paling akhir tahu tentang pacarnya, tetapi karena dia takut pengalaman masa lalunya dengan Yudha terulang kembali. Yudha yang orang biasa saja bisa tergoda wanita lain, bagaimana dengan Fedrian yang selalu dikelilingi oleh wanita yang hendak melemparkan diri mereka pada artis tenar itu?

Sekali lagi issue komitmen diangkat dalam novel romance terbitan Gagas Media. Saya baru pertama kali membaca karya Nina Ardianti. Sekilas dengan mengangkat latar belakang gadis yang bekerja di bank dan hidupnya bertipe metropop, membuat saya lantas teringat dengan Ika Natassa.  Tidak heran mengingat Nina juga adalah seorang banker. Apalagi ketika di bagian akhir novel ini ada akun twitter dari Syiana dan Fedrian (ya… saya segitu kepo-nya ngecek di twitterland dan berhenti ketika melihat akunnya digembok). Novel yang berlanjut ke twitterland mungkin jadi trend yang dipopulerkan oleh Ika Natassa.

Soal typo, well masih banyak bertebaran. Kesalahan cetak pastilah ada, meski sudah melewati editor dan proofreader. Tapi ada bagian yang membuat saya berkerut dan mesti bolak-balik halaman untuk memastikan apa saya salah baca atau tidak. Bagian itu adalah ketika Syiana menemani Edyta untuk menonton acara Asia Pasific Rise and Shine di sabtu malam. Keesokannya (hari Minggu),  Syiana menonton infotainment tentang acara itu yang dilanjutkan dengan acara jalan-jalan dengan Edyta ke Grand Indonesia. Ketika mereka masuk ke Starbuck, Edyta mengajak sahabatnya itu untuk nginap di rumahnya dan menontom marathon film serial, yang dijawab oleh Syiana bahwa menghabiskan malam minggu menonton serial itu adalah pathetic. Err..bukannya hari itu sudah hari Minggu ya? Kok balik lagi ke Sabtu? Trus lanjut ketika mereka sudah pulang ke rumah Edyta, Syiana dapat BBM dari Fedrian. Syiana lalu menelpon Danny yang diduga memberikan pin BBM-nya pada Adrian. Di situ ada tertulis, Syiana meletakkan tas di atas meja kubikel dan menyalakan komputer (yang saya asumsikan adalah di kantornya pada hari Senin). Tapi ternyata di bagian berikutnya ada penjelasan kalau keesokan harinya adalah hari Senin dimana Syiana harus menyetir ke kantor sambil harap-harap cemas belum mendapatkan BBM satupun dari Fedrian. Jyaa…saya yang kelewat atau memang ada yang salah dengan pengaturan harinya. Belum lagi istilah ‘aksep” yang sepertinya diterjemahkan dari kata ‘accept’Ada kalimat, “Aku memutuskan untuk mengaksep invitation-nya” di halaman 111. Kenapa ga sekalian pakai bahasa Inggris saja? CMIIW, mungkin saya yang gak tahu kalau “accept” sudah di-Indonesiakan menjadi ‘aksep’.

Anyway…saya terkesan dengan bagian pidato papinya Edyta tentang analogi sebuah pernikahan dan hubungan dengan pasangan sebagai pekerjaan  penuh waktu yang butuh usaha dan kerja keras. Kalau ga siap, ya jangan coba-coba melamar pekerjaan itu. Iya kalau mendapatkan kesempatan untuk menekan tombol ‘restart‘. Kalau nggak? Apa yakin bisa move on?🙂

3 stars

3 thoughts on “#232 Restart

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s