#238 Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

18160714

Judul Buku : Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

Penulis : Maggie Tiojakin

Halaman : 241

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Peringatan : Jangan tertipu oleh gambar pada sampul buku ini.  Ataupun pada tulisan Kumpulan Cerita Absurd. Tidak ada cerita absurd dalam buku ini. Well… setidaknya itu menurut saya setelah menghabiskan buku ini dalam sekali duduk. Apa itu absurd? Tidak masuk akal, bodoh, konyol, tidak layak? Kalau itu pengertiannya, maka sekali lagi saya menegaskan, buku ini tidak absurd. Itu hanya masalah rasa.

Saya  sudah mengikuti semua petunjuk untuk membaca buku ini. Tarik napas. Tahan. Berdoalah. Teruslah melangkah. Saya bahkan menyediakan secangkir kopi untuk menemani saya membaca buku ini, diam-diam di suatu siang (ini satu-satunya petunjuk yang saya langgar. Saya tidak bisa menunggu tengah malam karena penasaran). Sekali lagi, tidak ada yang absurd.

Satu-satunya petunjuk yang saya benarkan dalam membaca buku ini adalah kata “tersesat”. Iya…saya tersesat dalam 14 kisah ( + 5 bonus) yang ditulis oleh Maggie. Tanpa sadar saya menanggalkan harapan “happy ending” atau “bahagia selamanya” sejenak saat saya pertama membaca kisah Tak Ada Badai Di Taman Eden. Dan perasaan itu membuat saya terus melangkah, sambil sesekali menyesap kopi yang mulai mendingin.

Ada beberapa kisah yang melekat di dalam ingatan saya. Yang pertama adalah Jam KerjaSaya merasa Maggie mampu membaca alam pikiran orang-orang yang memiliki jam kerja tertentu di kantoran. Jujur, alam pikiran saya sering berkelana ketika berada di tempat kerja. Ketika bertemu dengan orang-orang (apalagi yang baru), benak saya langsung “bekerja”, orang ini enaknya diapain ya?🙂

Cerita kedua Dia, Pemberani. Saya merasakan putus asa sekaligus kepasrahan yang dialami Zaleb menghadapi suaminya, Masaai yang menyukai olahraga atau kegiatan ekstrim. Hanya cinta yang bisa membuat Zaleb bertahan. Dan kisah Zaleb dan Masaai adalah kisah cinta yang indah.

Cerita ketiga Fatima. Dibuka dengan kisah perang, dan ditutup dengan adegan seorang pemuda yang meninggalkan warnet untuk berjanji akan datang kembali demi mendengarkan suara merdu Fatima. Meski dia harus mati berkali-kali. Ouch…

Keempat ada kisah Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini. Ada kontradiksi yang nyata di antara Vora, si kakak dan Salina, si adik. Vora, gadis ramping dengan figur seperti bintang iklan. Dia punya tunangan bernama Bong, seorang pebisnis sukses. Salina, tampil awut-awutan, dan temannya hanyalah Arta. Itupun kenalnya lewat game online. Siapa yang berbahagia pada akhirnya? Salina. Saya menemukan Arta-Arta saya di suatu komunitas blogger buku. Kecintaan terhadap buku menjadi suatu ikatan yang kasat mata, tapi lebih kuat dibandingkan hubungan saya dengan teman di kantor, kampus atau di kost. Akui saja, ada berapa di antara kamu yang lebih akrab dengan komunitas di dunia maya?:mrgreen:

Kemudian ada kisah Saksi Mata, yang mengkritik kepedulian sosial kita kepada masyarakat di sekitar kita. Entah sudah beberapa kali kita (baca: saya) membiarkan lingkungan kita berputar, berbuat semau mereka, selama kita masih dalam zona nyaman, tidak ada masalah buat kita.

Mungkin kalau ada yang tidak biasa dalam buku ini adalah pemilihan nama tokoh yang tidak seperti nama tokoh yang kita dengar atau baca sebelumnya. Seakan-akan Maggie membuat nama itu dari sekumpulan huruf yang asal berbunyi saja. Tetapi nama yang tidak biasa itu justru membangun image yang kuat di dalam kisah-kisahnya.

Saya suka dengan kisah-kisah yang menyisakan pertanyaan di dalam benak saya bahkan setelah saya menutup bukunya. Dan seperti yang dituliskan oleh Maggie di buku ini, bahwa kisahnya bukan untuk menginspirasi melainkan untuk bertanya (hal 236).  Dia berhasil.

5 stars

6 thoughts on “#238 Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa

  1. Saya sengaja membaca-baca review di Goodreads untuk buku ini. Hingga sampai ke blog ini.
    Apa yang saya cari? Saya mencari jawaban atas pertanyaan mengenai cerpen “Tak Ada Badai di Taman Eden”. Saya tak paham, apa yang terjadi dalam kecelakaan suami istri itu hingga mereka tak bisa lagi seperti dulu.
    Imajinasi saya mereka-reka peristiwa, tapi tak puas dengan pikiran saya. Saya ingin tahu interpretasi orang lain. Kira-kira begitulah

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s