#274 Versus

18721669

Judul Buku : Versus

Penulis : Robin Wijaya

Halaman : 400

Penerbit : Gagas Media

Pertama kali saya berkenalan dengan tulisan Robin Wijaya adalah lewat cerpennya Hujan Tanpa Pelangi di buku Kkmcer Dongeng Patah Hati, yang juga diterbitkan oleh Gagas Media. Saya menyukai tulisannya, makanya ketika novel Versus ini keluar, saya langsung membelinya.

Versus bercerita tentang 3 orang sahabat bernama Amri, Chandra dan Bima. Kisah mereka dibuka dengan kematian Bima. Amri dan Chandra yang menghadiri pemakaman sahabatnya itu hanya bisa terdiam tanpa meneteskan air mata, meski dalam hati mereka menangis. Mengapa Bima bisa menemui ajal lebih dahulu? Apakah ada hubungannya dengan persahabatan mereka.

Masing-masing mendapat porsi satu fragmen (terdiri atas beberapa bab) untuk bercerita. Fragmen pertama diceritakan oleh Amri. Alkisah mereka bertiga hidup di kampung Bayah, di salah satu sudut kota Jakarta. Amri tinggal bersama ayah dan adiknya, Danu. Sejak kematian ibu mereka, antara Amri dan ayahnya selalu tidak akur.  Ayahnya menganggap Amri sebagai anak pembuat masalah, dan Amri sendiri sudah lelah menjaga image-nya di depan ayahnya akhirnya membiarkan pandangan ayahnya itu. Satu-satunya yang menyatukan mereka hanyalah Danu. Untungnya Amri memiliki sahabat seperti Bima dan Chandra yang selalu ada untuknya. Salah satu konflik yang dihadapi oleh ketiga sahabat ini adalah permusuhan antara Kampung Bayah dan Kampung Anyar. Permusuhan ini sudah ada sejak dulu, turun temurun. Pemuda antar kampung selalu tawuran dan saling mencurigai. Amri pernah dikejar oleh anak Kampung Anyar, hanya karena mengantar Nuri pacarnya yang adalah anak Kampung Anyar.

Fragmen kedua diceritakan oleh Chandra. Sebagai warga keturunan Tionghoa, Chandra selalu menghadapi masalah rasis. Dia benci dikatain cina, sipit, bahkan selalu dipalak hanya karena dianggap sebagai anak berada. Orang tua Chandra mempunyai toko yang lumayan besar, yang terletak di Kampung Anyar. Di tahun 1998, kala krisis ekonomi semakin mencekik, keluarga Chandra tidak terlepas dari keadaan itu. Toko mulai bangkrut karena harga dan inflasi yang meroket. Ketika ayahnya memutuskan untuk mengurangi karyawan, yang ada toko mereka habis dibakar.

Fragmen ketiga adalah kisah Bima. Bima yang selalu tampil “preman” di antara ketiga sahabat ini ternyata memiliki konflik tersendiri. Berasal dari keluarga broken home, Bima terpaksa tinggal bersama kakaknya, Arya. Belum cukup dengan masalah tanpa kehadiran orang tua, disorientasi seksual yang dialami Arya menjadi beban bagi Bima. Meski demikian, Bima dianggap sebagai jawara di Kampung Bayah. Mungkin karena sikapnya yang pemberani.

Lima belas tahun kemudian, hidup ketiganya berubah. Amri menjadi pengacara, Chandra sukses dengan bisnis tekstilnya, sementara Bima dengan ormas-nya. Perbedaan hidup mereka serta kebersamaan yang dijalani menjadi semacam penopang bagi ketiganya. Ketiganya memiliki pandangan yang sama, bahwa hidup itu memiliki bagian yang disebut sebagai teori paradoks (kasus yang tidak pernah terselesaikan). Tidak ada garis finish, tidak ada titik akhir. Karena waktu tidak pernah berhenti, satu-satunya cara adalah terus berlari bersama waktu. Penulis cukup jeli menjalin tiga masa (era orde baru, reformasi, dan saat ini) dalam satu kisah dan membuatnya sebagai teori paradoks. Melalui sudut pandang tiga orang yang berbeda, pembaca diajak menyelami ketiga masa itu secara beruntun, sambil menyisipkan pesan moral bahwa selalu ada harapan di antara perbedaan.

Sangat jarang sebuah novel mengangkat kisah dari sudut pandang laki-laki. Apalagi di dalam novel ini peran perempuannya nyaris tidak ada. Bahasanya juga cukup puitis ala Robin Wijaya. Karakternya juga cukup kuat, terasa ada perbedaan melalui kata ganti orang pertama (aku, gue dan saya). Tapi entah kenapa, saya tidak begitu menikmati novel ini. Salah satunya adalah tentang kematian Bima yang sepertinya terjadi begitu saja. Kalau kamu mengharapkan kisah yang manis, ga akan ada di novel ini. Namun bagi kamu yang ingin cerita persahabatan yang berbeda, kamu bisa menemukannya di sini.

2 stars

One thought on “#274 Versus

  1. what a shame, it sounds so good til the end (I would expect something sweet too or at least some sort of drama around the death of Bima).

    yes, I read fine in Indo but fairly awkward at expressing myself, hence… English comment🙂

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s