#296 Cinta (Tidak Harus) Mati

CTHM

Judul Buku : Cinta (Tidak Harus) Mati

Penulis : Henry Manampiring

Halaman : 258

Penerbit : Kompas 

Buku ini saya beli sejak pertama kali terbit. Saya termasuk salah satu silent follower-nya si penulis di twitter. Tertarik membeli buku ini karena ada survey tentang jomblo (yang sudah saya baca di blog-nya sebelum dijadikan tulisan di buku), dan penasaran dengan tulisan-tulisan lainnya.

Ada 23 bab tulisan om Henry dalam buku ini yang terbagi dalam 3 blok (Blok A tentang Cinta, Blok B tentang Kehidupan dan Blok C tentang Pencarian Diri). Nah..survey nasional tentang jomblo dan gebetan yang fenomenal itu ada di Blok A, lengkap dengan grafik statistik dan angka-angka hasil survey. Yang bikin ngakak ketawa itu adalah jawaban-jawaban open-ended dari hasil survey. Ini yang bikin survey aja seperti kurang kerjaan, apalagi ribuan orang yang ngisi surveynya ya… Tapi serius deh.. pengolahan datanya menarik, begitu pula dengan intrepretasi dari hasil pengolahan data itu. Ga berasa baca artikel ilmiah (iya… harusnya ini artikel ilmiah pake data statistik segala).

Melewati bagian survey-surveyan, makin ke belakang bahasannya makin berat. Tapi karena bahasanya yang ringan dan mudah dipahami jadi ga berasa baca buku motivasi atau pengembangan diri. Sudah gitu, font-nya amat memanjakan mata (kecuali warna hijau yang berasa silau di mata saya). Beberapa refleksi diangkat dari kisah-kisah yang dialami sendiri oleh penulis maupun oleh orang-orang di dekatnya. Misalnya kisah tentang Pak Bambang, seorang supir taxi profesional, dimana dia mengutamakan keselamatan penumpangnya sebelum membereskan masalah yang menimpanya.

Ada satu bab yang menjadi favorit saya dalam buku ini yaitu Bab 18 di Blok C yang berjudul “Job, Profession, dan Sumber Kebahagiaan Alternatif”. Di situ penulis menyebutkan pentingnya kita merasa enjoy dengan pekerjaan kita, karena pekerjaan itu menyita sepertiga bahkan setengah dari kehidupan kita dalam 24 jam. Caranya dengan mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion, minat dan bakat yang kita miliki. Idealnya begitu. Kalau ga dapat seperti itu, artinya kita harus mencari “ekstrakurikuler” yang membuat kita bahagia.

Kalau pekerjaan kita ga terlalu “happening” untuk bakat dan minat kita, kita masih bisa bergabung dengan banyak sekali komunitas-komunitas ini. (Halaman 201)

Amen for that. Setuju banget. Saya mengalami sendiri hal itu. Meski pekerjaan saya sekarang sesuai dengan passion saya (saya jadi dosen Biologi), terkadang ada rasa jenuh, bosan dan stres yang datang pada saat mengajar maupun melakukan penelitian. Saya bersyukur bisa menemukan “ekskul” yang pas yang bisa membuat saya bahagia. Saya bergabung dengan komunitas Blogger Buku Indonesia, menjadi seorang blogger buku yang aktif, bisa membaca banyak novel favorit, membuat tulisan review, mendapatkan banyak buntelan (baca : buku gratis) baik dari teman-teman maupun penerbit, dan berbagi buku dengan orang lain.

Balik lagi ke bukunya. Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca dan dikoleksi baik untuk kamu penyuka buku-buku refleksi dan pengembangan diri maupun yang bukan. Saya berharap om Henry tidak berhenti mencetak buku-buku berikutnya.

3 stars

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s