#317 (Bukan) Salah Waktu

20317160

Judul Buku : (Bukan) Salah Waktu

Penulis : Nastiti Denny

Halaman : 248

Penerbit : Bentang Pustaka

Sekar dan Prabu telah menikah selama 2 tahun. Hidup mereka selama ini baik-baik saja, hingga Sekar memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi Ibu Rumah Tangga. Ketika mulai tinggal di rumah, Sekar mulai menyadari bahwa dia kurang ahli dalam pekerjaan rumah tangga. Selain itu, Sekar juga mulai terganggu oleh kejadian yang dialaminya di masa lalu, yang datang mengganggunya lewat mimpi.

Ternyata selama menikah, Sekar menyimpan satu rahasia dari Prabu. Prabu tidak mengetahui bahwa kedua orang tua Sekar telah bercerai, bahkan sejak sebelum mereka menikah. Keretakan rumah tangga orang tua Sekar telah terjadi sejak Sekar masih kecil. Hampir tiap hari mama dan papanya bertengkar, saling menyalahkan satu sama lain atas kematian kakak laki-laki Sekar. Sekar kemudian merasa bahwa kehadirannya menjadi salah satu penyebab perpisahan orang tuanya. Mungkin itu alasannya, dia tidak mau memberitahu aib keluarganya kepada Prabu. Belum tentu Prabu dan keluarganya akan menerimanya jika mereka mengetahui bahwa Sekar adalah anak dari keluarga yang bercerai.

Di sisi lain, bukan hanya Sekar yang menyimpan rahasia. Prabu pernah punya anak di luar nikah, akibat jebakan seorang wanita bernama Laras di masa lalunya. Kini Laras datang kembali, menuntut Prabu untuk bertanggung  jawab setelah 8 tahun berlalu. Bukan hanya Laras yang mendatangi Prabu, Bram (adik Laras) malah membocorkan fakta ini kepada Sekar. Bram sendiri punya dendam tersendiri pada keluarga Prabu yang ingin dituntaskannya.

Penuh konflik. Itulah kesan saya pada novel debutan mbak Nastiti. Sayangnya bagi saya, antara satu konflik dengan konflik lainnya terasa tidak menyatu. Kehadiran Bram sebagai tokoh antagonis tidak terasa hadir sepenuhnya, hanya sebagai pelengkap cerita. Kondisi psikologis Sekar yang disinggung di awal cerita tidak diselesaikan dengan baik. Malah di tengah-tengah cerita dimunculkan fakta baru bahwa Sekar hanyalah anak angkat, lalu mamanya terkena kanker, dan Sekar memaafkan apa yang dilakukan mamanya di masa lalu yang menimbulkan trauma pada dirinya. Begitu juga dengan Laras yang tiba-tiba saja menghilang dan menyerahkan anaknya begitu saja pada Prabu, lantas ketika anaknya itu bertemu dengan Sekar bisa langsung akrab.

Terlepas dari itu, novel ini nyaris “bersih” dari typo. Cukup memuaskan membaca novel ini, meski ada banyak hal yang masih bisa dikembangkan di dalam ceritanya.

2 stars

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s