#330 Come On Over

22085728

Judul Buku : Come On Over

Penulis : Christian Simamora

Halaman : 450

Penerbit : Twigora

Hanya dalam waktu singkat setelah Guilty Pleasure diterbitkan oleh Gagas Media, Christian Simamora kembali meluncurkan serial #JBoyFriend dengan Jermaine sebagai tokoh utamanya. Meski tidak lagi di bawah Gagas Media, tapi tulisan bang ChrisMor ini ga kehilangan taringnya.

Mari berkenalan dengan Tata, seorang gadis yang mengaku pengangguran meski bekerja di toko kristal milik kakaknya, Ada. Itupun dilakukannya sebagai balas jasa karena bisa tinggal bersama kakaknya setelah resign  beberapa bulan lalu. Di suatu hari yang membosankan saat menjaga toko, tiba-tiba muncul seorang pria yang (mengutip kata Tata) HOT banget. Dialah Jermaine Morton, yang datang ke toko itu mencari kotak musik untuk dihadiahkan ke pacarnya. Rencananya dia akan memasukkan sebuah cincin tunangan di dalam kotak itu dan akan melamar Liz, pacarnya.

Kenapa ya cowok sempurna itu seringnya sudah ada yang punya? (hal. 10)

Jermaine dan Liz sudah lama berpacaran, dan Jermaine merasa sudah saatnya melamar Liz. Sayangnya Liz berpendapat lain dan menolak lamaran Jermaine saat itu juga. Bukan itu saja, Liz mengusulkan untuk break sementara waktu. Selama masa break itu, Jermaine menemukan kenyamanan bersama Tata yang lucu, apa adanya dan bisa menjadi bro untuknya. Sebaliknya, Tata tetap menyimpan perasaannya di dalam hati untuk Jermaine.

Ketika akhirnya Liz memutuskan hubungannya dengan Jermaine karena konon tidak direstui oleh orang tuanya, Jermaine benar-benar patah hati. Tata-lah yang menghiburnya dan selalu berada di dekatnya. Kedekatan yang semakin menjadi di antara mereka membuat Tata berani mengungkapkan perasaannya pada Jermaine, setelah Jermaine sendiri mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada Tata. Sayangnya romantisme itu tidak berlangsung lama. Liz kembali datang pada Jermaine dan mengatakan siap dinikahi oleh cowok itu. Jermaine jadi galau menentukan pilihan antara Liz atau Tata.

Tulisan abang ChrisMor tidak pernah membosankan dan selalu memaku mata untuk membacanya sampai habis. Banyak kalimat yang quoteable dan  istilah gaul yang (sepertinya) diciptakan sendiri oleh penulis yang menambah juicy-nya buku ini. Belum lagi adegan berlabel dewasa yang semakin berani dan terdeskripsikan dengan baik di dalamnya. Misalnya, bagian dimana Christian Grey-nya FSOG digambarkan kalah kinky dibandingkan the fairytale dude Pinokio.

“Sejak Fifty Shades of Greys rilis, rata-rata cewek yang sudah membaca buku itu bilang kalau Christian Grey itu sosok yang hot banget. Semua orang, kecuali Madame. Buat Madame, cowok paling kinky itu Pinokio”

Terdengar suara erangan tertahan dan gumamam dari arah penonton.

Yes, Darling… that fairytale dude PINOKIO. Tahu nggak apa yang bakal Madame lakukan kalau bisa bercinta sama Pinokio? Madame suruh dia going downtown… Dan sementara wajahnya berada di bawah sana, Madam bakal bilang, ‘Bohong dong, Pinokio. Ya, lagi. Bohong lagi! YESOHMAIGAWDDD!'”. (hal 231)

Please…jangan suruh saya menjelaskan apa artinya. *semoga blog ini nggak dibanned*😀

Kelebihan lainnya adalah profesi tokoh utama yang tidak biasa yang selalu ditampilkan oleh penulis. Kalau sebelumnya kita bertemu dengan Julien, si penjual buah, sekarang Jermaine adalah seorang pemilik beerhouse dan Tata seorang pegawai toko kristal. Selain hubungan antara Jermaine dan Tata, ada juga kisah cinta sampingan antara Ada dan Noel. Meski tidak mengambil porsi yang banyak, kisah Ada-Noel menarik juga untuk diikuti. Noel yang tadinya dijodohkan oleh Ada untuk Tata, justru terpikat dengan kedewasaan dan religiusnya si kakak.

Kalau melihat ending yang ditampilkan dalam bentuk timeline Twitter @NationalRiches, sepertinya bakal ada lagi tokoh yang tidak kalah mempesona di buku berikutnya. Mengingat Jermaine yang bisa dikatakan sebagai perantara antara kategori #JBoyFriend dan #hawtlist, kemungkinan akan ada serial baru (#hawtlist) yang memuat tokoh-tokoh cowok yang tidak kalah hot-nya. Kita tunggu saja karya si abang ini berikutnya.

4 stars

2 thoughts on “#330 Come On Over

  1. Suer, barusan di Gramedia Gorontalo aku lihat buku ini. Sudah sempat ditimang-timang juga. Tapi entah mengapa aku berhasil menahan diri untuk gak beli. Tapi setelah baca review ini… jadi pengen balik lagi ke Gramedia. Hahaha.

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s