#331 Mencari Alaska

22730973

Judul Buku : Looking For Alaska (Mencari Alaska)

Penulis : John Green

Halaman : 288

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Miles Halter, pemuda yang menyukai dan menghapalkan kata-kata terakhir orang terkenal. Di Florida, dia nyaris tanpa teman. Miles kemudian memutuskan untuk pindah sekolah ke Culver Creek, Alabama. Selain meneruskan tradisi keluarga (ayahnya pernah bersekolah di sana), Miles sebenarnya ingin mencari suasana baru. Terinspirasi dari kata terakhir Francois Rabelais :”Aku pergi mencari Kemungkinan Besar“, demikian juga Miles mencari suatu kemungkinan di Alabama.

Teman pertama yang dijumpai Miles adalah Chip Martin, teman sekamarnya. Chip menyebut dirinya Kolonel, dan memberi nama Pudge untuk Miles meski postur tubuh Miles kurus (kata Kolonel itulah ironi). Kolonel termasuk siswa yang pintar dan senang sekali membuat kejailan. Teman kedua yang dikenalnya adalah Alaska, gadis cantik dan seksi di mata Pudge, pemilik ratusan buku bekas yang sengaja dibelinya untuk membuat perpustakaan pribadi. Alaska juga sama jailnya dengan Kolonel. Teman ketiga adalah Takumi, pemuda Jepang yang juga adalah teman Kolonel dan Alaska. Suatu malam, Pudge diculik oleh beberapa orang, tubuhnya diikat dengan lakban, lalu dilempar ke danau. Pudge mengira itu adalah salah satu bentuk penyambutan di Culver Creek. Belakangan Kolonel menjelaskan bahwa para Weekday Warriors yang melakukan itu sebenarnya ingin membalas dendam pada Kolonel. Mereka menuduh Kolonel melaporkan salah satu teman mereka yang kedapatan melakukan Trifekta (kontak genital, mabuk dan mengisap ganja) bersama pacarnya, hingga akhirnya dikeluarkan dari Culver Creek.

Perkenalan Pudge dengan ketiga orang ini membuat hidup Pudge berubah. Pudge mulai merokok, meminum alkohol, dan melakukan beberapa kejailan. Berkat Alaska, Pudge juga mendapatkan pengalaman seksual pertamanya dengan gadis Rumania bernama Lara. Meski demikian, Pudge tahu dia lebih menyukai Alaska. Sayangnya Alaska sudah punya pacar. Hingga suatu hari mereka melakukan kejailan besar dimana Kolonel dan Alaska menjadi otaknya. Kejailan itu sukses, dan mereka meminum alkohol untuk merayakannya. Dalam permainan Truth or Dare, Alaska menantang Pudge untuk mencumbunya. Itu adalah hal terakhir yang diingat Pudge tentang Alaska, karena setelah malam itu Alaska tidak lagi bersama dengan mereka.

Mencari Alaska adalah buku ketiga dari John Green yang saya baca. Sama hal-nya saat membaca The Fault In Our Star dan An Abundance of Katherines, membaca karya John Green membuat saya terpana hingga akhir buku.  Saya memberikan satu bintang khusus buat penerjemahnya, Ndari (hey..dia juga anggota BBI lho) yang bisa mengalih bahasakan karya John Green ini tanpa kehilangan makna dari pilihan diksi yang tidak biasa. Humor ala John Green pun masih terasa renyah di buku terjemahan ini.

Bintang kedua adalah untuk penulisan cerita yang unik. Secara garis besar kisah dalam buku ini dibagi menjadi dua bagian, Sebelum dan Sesudah Alaska tidak lagi bersama teman-temannya. Lantas saya bertanya, mengapa mereka harus mencari Alaska, padahal mereka tahu kemana Alaska pergi. Setelah membacanya, saya baru memahami bahwa mereka bukan mencari tubuhnya Alaska, tapi lebih kepada pemikirannya Alaska (yang memang nyaris tidak dipahami oleh teman-temannya). Mengapa Alaska pergi dengan cara seperti itu? Apakah itu pilihannya ataukah ada orang lain yang bertanggung jawab atasnya? Alaska sendiri meninggalkan pertanyaan besar (yang juga diambil dari kata terakhir orang terkenal, Simon Bolivar) “Bagaimana caraku keluar dari labirin ini?

Bintang ketiga saya berikan untuk karakter para tokoh. Saya melihat setiap tokoh di dalamnya bisa mewakili karakter banyak remaja. Pudge adalah remaja “baik-baik” tapi tidak punya teman, merasa perlu mencari jati dirinya. Kolonel adalah remaja pandai yang berasal dari keluarga broken home, yang juga canggung dalam urusan pergaulan dengan lawan jenis. Takumi, sosok pendiam yang ternyata menyimpan banyak rahasia yang tidak diketahui oleh teman-temannya. Alaska, gadis remaja yang terlihat kuat di luar namun rapuh di dalam dirinya. John Green mungkin sengaja memilih karakter remaja yang terlihat nakal ini untuk menunjukkan kompleksnya pola pikir dan kehidupan para remaja.

“Ketika orang dewasa berkata , ‘Para remaja mengira mereka tak terkalahkan’, sambil menyunggingkan senyum bodoh dan licik, mereka tidak tahu betapa benarnya mereka. Kita tak pernah harus putus asa, sebab kita takkan pernah rusak tanpa dapat diperbaiki. Kita mengira kita tak terkalahkan karena memang demikian adanya. Kita tak bisa dilahirkan dan kita tak bisa mati. Seperti semua energi, kita hanya bisa mengubah bentuk, ukuran dan wujud. Mereka akan melupakan itu saat tua nanti. Mereka menjadi takut akan kehilangan dan kegagalan. Tapi bagian diri kita yang lebih besar dibandingkan jumlah bagian-bagian kita tak bisa berawal dan tak bisa berakhir, maka takkan bisa gagal”

Bintang keempat untuk cover bukunya. Meski berbeda dengan cover aslinya, gambar minimalis yang menampilkan kaki seorang perempuan bersandal jepit dan bunga daisy berwarna putih terasa “sangat Alaska”.

Sebagai penutup saya akan mengutip satu adegan dalam buku ini  untuk kamu para ordo penimbun🙂

“Apa kamu benar-benar sudah membaca semua buku di kamarmu?”

Ia tertawa, “Ya Tuhan, tidal. Aku mungkin membaca sepertiganya. Tapi aku akan membaca semuanya. Aku menyebutnya Perpustakaan Hidupku… Aku akan punya lebih banyak waktu untuk membaca ketika sudah tua dan membosankan.”

Hidup ordo penimbun😀 #eh

4 stars

5 thoughts on “#331 Mencari Alaska

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s