#333 Tanah Tabu

6468957

Judul Buku : Tanah Tabu

Penulis : Anindita S. Thayf

Halaman : 237

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Orang pintar bisa membuat hidupnya menjadi lebih baik. Lebih makmur dan kaya. Asal kau tahu, itulah mimpi tertinggi setiap orang di dunia ini. (Hal. 17)

Begitulah pesan yang diberikan Mabel (Mama Anabel) dan Mace Lisbeth untuk Leksi ketika Leksi bertanya mengapa dia harus bersekolah. Baik Mabel maupun Mace sudah mengalami pahitnya kehidupan karena menjadi perempuan yang (dianggap) bodoh. Tapi bagi Leksi kecil, hidup yang lebih baik itu adalah ketika mereka diundang berpesta, dan mimpinya adalah bermain bersama teman-temannya, juga bersama Pum dan Kwee. Pum adalah sahabat Mabel, sementara Kwee adalah  kawan akrab Leksi karena mereka dibesarkan bersama.

Pum menceritakan kisah hidup Mabel yang  adalah perempuan Komen dari suku Dani. Perempuan di suku tersebut adalah pelengkap bagi laki-laki. Mabel kecil yang cerdas mempertanyakan mengapa perempuan mendapat perlakuan yang berbeda dengan laki-laki. Ketika bangsa kulit putih datang, laki-laki yang tadinya berburu menjadi penambang emas. Mereka dijanjikan hidup yang lebih baik. Tapi Mabel melihat semua ketidak adilan itu. Gara-gara pertambangan emas itu terjadi perang saudara antara Kampung Atas dan Kampung Bawah. Laki-laki mulai hidup untuk dirinya sendiri, tidak lagi memperdulikan istri dan anak-anaknya. Gaji yang mereka terima habis untuk membeli minuman alkohol.

Kwee juga menceritakan kisah Mace Lisbeth yang didengarnya dari ibunya. Suami Mace adalah Pace Johanis, anak dari Mabel. Sayangnya Pace Johanis pergi meninggalkan Mace dan anaknya. Mace membawa anaknya dan Kwee di dalam noken untuk menemui Mabel. Kehidupan pahit yang dialami oleh Mabel dan Mace membuat mereka bertekat agar Leksi tidak mengalami hal serupa.

Tanah Tabu membawa kita ke Papua. Dari sudut pandang Leksi, Pum dan Kwee kita bisa merasakan kehidupan masyarakat kelas bawah di daerah pertambangan emas Timika. Selain itu, ada juga kisah semasa Pilkada dengan berbagai macam partai yang membawa kepentingan sendiri. Semuanya menjanjikan kehidupan yang lebih baik yang akan terlupakan ketika sudah berkuasa. Mungkin itulah mengapa disebut tanah tabu, dimana nasib rakyat kecil terinjak-injak oleh penguasa dan ketidak adilan.

Yang menarik adalah Penulis menggunakan tiga tokoh sebagai pencerita yang istimewa. Leksi meski masih kecil, punya pengetahuan dan pemahaman yang luas. Dengan keluguannya dalam memahami fenomena yang terjadi di masyarakat kita bisa merasakan kehidupan yang terjadi di sana. Dua pencerita lainnya adalah Pum dan Kwee yang tidak lain adalah peliharaan keluarga Mabel. Pum, si anjing, adalah peliharaan Mabel sejak kecil. Dia sudah mengikuti Mabel kemanapun. Ketika Mabel mempercayakan Leksi padanya, Pum menerima tugas itu dengan senang hati. Kwee, si babi, yang dibesarkan bersama-sama Leksi di dalam noken juga senantiasa menjaga Leksi. Di sisi lain, Leksi menganggap Pum dan Kwee bukan sekadar hewan peliharaan. Di Papua, adalah tradisi membesarkan seekor babi layaknya anak sendiri. Konon babi merupakan mahar yang mahal dalam pernikahan.

Novel ini mendapatkan penghargaan Juara Pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2008, juga nominee Khatulistiwa Literature Award di tahun 2009. Pencapaian yang wajar untuk sebuah novel yang sangat menarik. Membuat kita tidak boleh lupa akan nasib saudara kita di ujung timur Indonesia.

3 stars

Posting bareng

9 thoughts on “#333 Tanah Tabu

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s