#336 Sabtu Bersama Bapak

22544789

Judul Buku : Sabtu Bersama Bapak

Penulis : Adhitya Mulya

Halaman : 278

Penerbit : Gagas Media

Apa jadinya jika seorang ayah harus meninggalkan keluarganya untuk selamanya? Ketika dia tidak bisa melihat anak-anaknya bertumbuh dan menjadi dewasa serta membangun keluarganya sendiri? Inilah yang dilakukan oleh Gunawan Garnida untuk Satya dan Cakra, anak-anaknya.

Gunawan mendapatkan vonis kanker ketika anaknya masih kecil. Satya, si sulung berumur 6 tahun dan adiknya Cakra berumur 3 tahun. Dua tahun kemudian Gunawan pergi untuk selamanya. Tetapi dia meninggalkan harta berharga untuk anak-anaknya. Gunawan sudah mempersiapkan banyak kaset video untuk ditonton oleh kedua anaknya. Maka, setiap Sabtu, Satya dan Cakra “bertemu” kembali dengan Bapak. Mereka belajar dan bermain bersama Bapak.

Puluhan tahun kemudian Satya sudah berkeluarga dengan tiga orang anak. Pekerjaannya pun mapan sebagai seorang geophysicist di lepas pantai Denmark, meski hal itu menuntutnya untuk tidak selalu bersama dengan keluarganya. Sayangnya, ketika tiba saatnya dia berkumpul bersama keluarganya, dia banyak menjumpai kesalahan. Masakan Rissa, istrinya tidak selezat masakan ibunya, anak pertamanya lemah dalam pelajaran matematika, anak bungsunya masih ngompol. Ada saja yang membuat Satya kecewa dan marah. Di mata istri dan anak-anaknya Satya adalah ayah yang menakutkan. Hingga suatu hari istrinya mengirimkan email kepadanya untuk melarangnya pulang ke rumah, sampai dia bisa menemukan sesuatu yang menyenangkan dari keluarganya. Satya tertampar. Keutuhan rumah tangganya terancam.

Beda lagi dengan Cakra. Pekerjaannya juga mapan, sudah punya rumah, penampilan pun tidak memalukan. Sayangnya dia masih jomblo di usia 30 tahun. Baik keluarga maupun bawahannya sama-sama mendorong Cakra untuk segera mencari jodoh. Bukannya Cakra tidak mau, Cakra hanya ingin memantapkan dirinya terlebih dahulu sebelummencari calon istri. Ketika seorang karyawan baru bernama Ayu hadir di kantor, Cakra terpesona. Dia merasa inilah calon istrinya. Tapi Cakra punya saingan. Dan sepertinya Ayu tidak membalas perasaannya.

Baik Satya maupun Cakra berada dalam masalah kehidupan. Beruntunglah mereka, ada Bapak yang mempunyai solusi untuk keduanya. Video-video yang ditinggalkan oleh Bapak menuntun mereka menjadi suami yang baik dan pria idaman setiap wanita. Namun video Bapak tidak berarti tanpa bantuan Mamah, ibu mereka. Ibu Itje membesarkan kedua anaknya dengan kasih, tidak ingin merepotkan kedua anaknya, bahkan ketika dia berada dalam kondisi menderita kanker payudara. Dia selalu ingat akan pesan mendiang suaminya.

“Waktu dulu kita jadi anak, kita gak nyusahin orangtua. Nanti kita sudah tua, kita gak nyusahin anak” (hal 88)

Saya masih ingat novel karya Ninit Yunita berjudul Test Pack. Novel yang membantu saya melewati masa-masa dimana saya hampir putus asa menantikan buah hati. Kali ini Kang Adhit hadir dengan novelnya Sabtu Bersama Bapak. Novel yang saya rasa bisa saya jadikan referensi bagaimana membesarkan si buah hati. Nasihat-nasihat Bapak di dalam videonya bukan hanya berlaku untuk Satya dan Cakra, tapi bisa juga untuk pembaca termasuk saya. Nasihat Bapak tentang bagaimana menghadapy bully di sekolah, pentingnya punya IPK di atas 3, pentingnya menetapkan deadline untuk mengejar mimpi. Bahkan untuk urusan jodoh Bapak punya pesan:

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.” (hal 217)

Meski penuh dengan nasihat dan petuah, jangan berpikir novel ini dikemas dalam nuansa serius. Novel ini kocak. Asli. Tingkah Cakra dan anak buahnya membuat saya tertawa sendiri membacanya.

“Pagi, Pak Cakra”
“Pagi, Wati”
“Udah sarapan, Pak?”
“Udah, Wati”
“Udah punya pacar, Pak?”
“Diam kamu, Wati”

“Pagi, Pak”
“Pagi, Firman”
“Pak mau ngingetin dua hal aja, Bapak ada induksi untuk pukul 9 nanti di ruang meeting”
“Oh, iya. Thanks. Satu lagi apa?”
“Mau ngingetin aja, Bapak masih jomblo”
“Enyah, kamu.” (hal. 43)

Novel ini saya pinjam dari teman saya, Dhila (terima kasih, Dhila). Tapi saya berjanji habis ini saya akan membeli novel ini untuk saya koleksi, saya simpan dan saya baca di suatu waktu nanti ketika saya membutuhkan pesan Bapak.

5 stars

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s