#338 Handle With Care

23130868

Judul Buku : Handle With Care (Sentuh Dengan Hati-hati)

Penulis : Jodi Picoult

Halaman : 640

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Setelah sekian lama menantikan terjemahan dari novel Jodi Picoult, mendengar GPU akan menerbitkan Handle With Care saya jadi tidak sabar ingin segera membacanya. Kali ini JP mengangkat tema tentang dilema seorang ibu yang memiliki anak difabel.

Sean dan Charlotte O’Keefe sangat gembira ketika mengetahui usaha mereka untuk mempunyai seorang anak berhasil, setelah penantian dan usaha fertilisasi dua tahun lamanya. Piper Reece, sahabat sekaligus dokter kandungan Charlotte adalah orang yang tahu pasti bagaimana mereka berusaha untuk itu. Meskipun Charlotte sebelumnya sudah memiliki anak perempuan bernama Amelia, namun buah hati yang sedang dikandungnya ini adalah anak pertamanya dengan Sean. Keluarga O’Keefe sangat antusias menantikan kehadiran anggota baru di keluarga mereka. Hingga pada minggu ke-27 usia kandungan Charlotte, Piper menemukan kejanggalan pada sonogram Charlotte. Hasilnya memperlihatkan bayi perempuan yang dikandung Charlotte menderita Osteogenesis Imperfecta (OI) Tipe III. Kondisi dimana tubuh sangat kekurangan kolagen sehingga tulang menjadi rapuh. Bayi Charlotte, bahkan ketika masih di dalam kandungan, telah mengalami 7 fraktur di tubuhnya. Dan ketika lahir, Willow menambah koleksi patahannya lagi. Sejak saat itu Willow hidup dengan kenyataan tulang-tulangnya bisa patah setiap saat, bahkan saat dia bersin.

Kehidupan keluarga O’Keefe tidaklah mudah. Charlotte yang awalnya bekerja sebagai koki pembuat kue terpaksa mendampingi Willow sepenuh waktu. Charlotte selalu tampil sebagai pelindung Willow. Ketika keluarga O’Keefe berlibur ke Disney Land, Willow mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang kakinya patah. Karena Amelia lupa membawa surat keterangan dokter, Charlotte dan Sean diperhadapkan pada tuduhan penganiayaan anak. Hasil rontgen Willow yang menunjukkan adanya bekas patahan di beberapa tempat di tubuhnya menguatkan tuduhan itu. Sean dan Charlotte harus bermalam di penjara, Amelia di rumah asuh, dan Willow sendirian kesakitan di rumah sakit. Meski akhirnya masalahnya bisa diatasi setelah Piper turun tangan, Sean tidak bisa menerima perlakuan pada keluarganya. Dia lalu melakukan tuntutan hukum melalui sebuah lembaga hukum. Namun, pengacara yang mereka pilih malah melihat adanya peluang tuntutan hukum untuk kasus lain. Malpraktik kelahiran yang dilakukan oleh Piper Reece.

Tragedi sebenarnya dimulai. Menurut sang pengacara, Piper bisa dituntut atas kelalaiannya memberikan informasi kepada Charlotte ketika usia kandungan Charlotte 18 bulan. Kala itu hasil USG yang dengan jelas memperlihatkan otak dari  janin di dalam kandungannya sudah bisa mengarahkan ke diagnosis OI. Charlotte seharusnya mendapatkan pilihan untuk melakukan terminasi kandungan (aborsi) karena bayinya cacat. Skenario tuntutan ini memecah belah keluarga O’Keefe. Sean menolak tuntutan itu karena hal tersebut sama saja dengan mengatakan pada Willow dia tidak diinginkan. Sementara Charlotte memilih untuk melanjutkan tuntutannya sehingga dia bisa mendapatkan dana ganti rugi yang bisa dia gunakan untuk membiayai hidup Willow yang tidak murah, Meski dengan resiko besar, dia akan kehilangan sahabat dan mungkin kepercayaan dari anaknya sendiri.

Terkadang kau harus menjadi manusia yang buruk demi menjadi ibu yang baik.

Jujur saja, membaca novel ini membuat saya sesak nafas. Membaca kondisi Willow yang rapuh saja sudah membuat saya berkali-kali menutup buku ini hanya untuk sekedar menarik nafas dan menghalau bayangan buruk di kepala saya. Belum lagi dilema yang harus dihadapi Charlotte sebagai seorang ibu. Di satu sisi dia mencintai Willow tanpa syarat, tapi di sisi lain kondisi ekonomi keluarganya yang sulit membuatnya dapat membayangkan bagaimana susahnya membiayai kehidupan Willow selanjutnya. Sementara itu, Sean yang menentang keputusan Charlotte memilih angkat kaki dari rumah. Dia merasa Charlotte sudah kelewatan dan tidak mencintai Willow.

Menjadi orang tua bukan hanya tentang melahirkan anak. Tetapi juga menjadi saksi atas kehidupannya.

Bukan hanya hubungan antara Sean dan Charlotte yang rusak, hidup Amelia juga terkena dampak dari penyakit Willow. Tanpa disadari oleh orang tuanya, Amelia tumbuh menjadi remaja yang merasa dirinya tidak berguna, buruk rupa, dan tidak disayangi. Akibatnya Amelia mengalami bulimia bahkan dia menyayat dirinya sendiri untuk mencari ketenangan. Willow yang menjadi pusat perhatian juga merasakan dirinyalah penyebab semua kerusakan itu. Ada ketakutan mendalam di diri Willow dia akan dibuang oleh ibunya sendiri.

Tidak ada orang yang menyimpan benda yang rusak. Cepat atau lambat, barang rusak akan dibuang.

JP tetap memilih formula multi-POV andalannya dalam novel ini. Namun kali ini semua tokoh “bercerita” kepada Willow. Gaya penulisan yang unik, dimana kita bisa melihat bagaimana pandangan setiap orang yang ada di sekitar Willow tanpa meniadakan sosok Willow sendiri. Hanya di akhir cerita ada bagian dimana Willow menceritakan kisahnya. Meskipun multi-POV, saya tidak merasakan kebingungan membacanya. Bahkan kisah ini terasa mengalir dengan sarat pengetahuan baru di dalamnya. Novel ini terasa seperti paket lengkap. Ada masalah kesehatan, anak difabel, konflik keluarga, persoalan remaja, tuntutan hukum, dan resep kue. Iya…resep kue yang membuat saya menelan ludah saat membacanya. Pandainya JP menghubungkan antara konflik kehidupan dengan beberapa istilah dalam dunia kuliner seperti tempering dan weeping. Lebih jauh lagi, sebagai penggemar novel JP, ketika membaca novel Handle With Care ini mungkin akan kembali mengingatkan pada beberapa tokoh wanita di novel JP sebelumnya. Saya merasakan Charlotte adalah perpaduan dari tokoh Sara di My Sister’s Keeper yang gigih memperjuangkan kesehatan anaknya, dan Nina di Perfect Match yang memperjuangkan keadilan untuk anaknya.

Terlepas dari masih banyak typo di dalam edisi terjemahan ini, saya sangat berterima kasih pada GPU yang sudah “kembali” menerbitkan novel karya penulis favorit saya ini. Saya berharap GPU masih mau melanjutkan untuk menerbitkan karya-karya JP lainnya.

4 stars

2 thoughts on “#338 Handle With Care

  1. Ya ampun mbak Des, hanya baca review ini saja aku rasanya nyesek banget. Gimana baca novelnya langsung? Jupe ini memang jago ya untuk masalah keluarga, hukum, dan kedokteran. Salut.

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s