#367 Still Alice

1ac5f1f2806d5736a0e63a284fbf160b

Judul Buku : Still Alice

Penulis : Lisa Genova

Halaman : 320 

Penerbit : Esensi

Alice Howland adalah seorang Professor di Harvard University. Bidang keahliannya adalah psikologi linguistik. Di usianya yang ke-50, Alice berada di puncak karir. Kepandaiannya sudah teruji, jam terbangnya sebagai seorang ahli bahasa juga tinggi. Kehebatannya sebagai seorang dosen sudah tidak diragukan.

John Howland, suami Alice juga seorang professor di Harvard Univeristy dengan keahlian di bidang Biologi. Ketiga anaknya (Anna, Tom dan Lydia) telah beranjak dewasa dengan pilihan karir masing-masing. Anna seorang praktisi hukum, Tom seorang dokter, sementara Lydia memilih menjadi aktris untuk karirnya. Pilihan anak bungsunya ini juga menjadi beban bagi Alice. Alice yang percaya bahwa seseorang harus berpendidikan tinggi agar bisa hidup dengan layak menganggap pilihan Lydia untuk tidak melanjutkan kuliah adalah suatu kesalahan. Gara-gara perbedaan pemahaman itu, hubungan Alice dan Lydia mengalami keretakan.

Tetapi masalah itu tidak seberapa dengan kenyataan yang harus dihadapi oleh Alice. Berawal dari suatu kejadian dimana dia lupa kata kamus (lexicon) saat sedang menjadi pembicara di suatu pertemuan ilmiah. Dilanjutkan dengan BlackBerry-nya yang ketinggalan di sebuah restoran. Alice sempat mengira kejadian itu adalah efek dari menopause. Tapi ketika dia sedang berlari di kompleks universitas tempatnya mengajar dan tiba-tiba lupa jalan pulang, Alice tidak lagi merasa tenang. Dia pun memeriksakan dirinya ke seorang neurologist, dan menjumpai kenyataan bahwa dirinya menderita Early-Onset Alzheimer.

Hidup Alice berubah. Perlahan-lahan ingatannya mulai memudar. Bukan hanya Alice yang merasakan perubahan ini. Suami dan anak-anaknya juga mengalami dampaknya. Mengetahui bahwa penyakit ini dapat diturunkan, Anna dan Tom memutuskan untuk melakukan pemeriksaan dini. Anna mendapatkan hasil positif, sementara Tom negatif. Lydia memilih untuk tidak memeriksakan dirinya. Anna yang sedang merencanakan kehamilannya mulai memikirkan bagaimana agar penyakit ini tidak diwariskan kepada anak-anaknya nanti.

Diceritakan lewat sudut pandang Alice, novel ini membawa pembaca seakan-akan mengalami setiap perubahan yang dirasakan Alice. Alzheimer adalah penyakit yang menyebabkan gangguan memori dan defisiensi fungsi otak. Pengetahuan masyarakat umum mengenai penyakit ini masih terbatas. Mungkin karena penyakit ini memang lebih banyak diderita oleh para lansia, sehingga masyarakat umumnya mengasosiasikannya dengan kondisi pikun yang mana masih dianggap wajar bagi para manula. Namun, bagaimana jika yang menderitanya adalah seorang yang sangat mengandalkan pikirannya seperti Alice? Tentunya menjadi beban yang luar biasa. Salah satu momen yang membuat saya terharu adalah ketika Alice mengatakan dirinya lebih baik menderita kanker daripada penyakit Alzheimer. Setidaknya kanker masih bisa diobati, tetapi Alzheimer akan membuat dirinya bukan lagi dirinya sendiri. Jika Alice saja merasa ragu akan dirinya, bagaimana keluarga dan orang-orang di sekitarnya akan melihatnya sebagai seorang Alice yang mereka kenal?

“Still Alice” adalah pilihan judul yang tepat menurut saya. Di dalam novel ini karakter Alice yang kuat sangat terasa. Bahkan ketika Alzheimer pelan-pelan mengalahkan dirinya, Alice masih berusaha menjadi dirinya sendiri. Dia tetap menjadi seorang pembicara, kali ini dengan dengan “ilmu kehidupan” yang dia alami.

Ada beberapa bagian di dalam novel ini yang masih terasa ilmiah. Tidak heran, karena penulis novel ini sendiri adalah seorang neuroscientist di Harvard University. Tapi karena alur cerita yang mengalir dengan baik, rasa ilmiah itu bisa menjadi tambahan pengetahuan baru bagi pembaca. Bahkan di novel ini ada informasi mengenai tempat penanganan alzheimer.

Ohya, ada satu metafora tentang kupu-kupu yang menarik dalam novel ini. Alice memiliki sebuah kalung dengan liontin kupu-kupu yang didapatnya dari ibunya. Di waktu dia masih kecil, Alice sangat sedih ketika mengetahui bahwa hidup seekor kupu-kupu sangat singkat. Namun ibunya membuatnya melihat dari sisi lain bahwa meski hidupnya singkat, kupu-kupu memiliki kehidupan yang indah. Alice menyukai metafora itu. Bahkan dia memiliki sebuah file khusus di komputernya bernama “Butterfly” yang dibuatnya sebagai penyelamat saat nanti Alzheimer menguasai dirinya.

Novel ini sudah diadaptasikan menjadi sebuah film berjudul sama. Meski ide ceritanya sudah tidak baru lagi (saya teringat dengan The Notebook saat membaca buku ini),  akting Julianne Moore, pemeran Alice, membuatnya mendapatkan penghargaan Academy Award 2015 sebagai aktris terbaik. Ada beberapa perbedaan antara versi buku dan versi film. Salah satunya adalah universitas tempat Alice mengajar, dimana di film disebutkan dia mengajar di Colombia University. Filmnya bagi saya terasa membosankan, walaupun plotnya sepertinya lebih cepat daripada yang di buku. Mungkin karena saya sudah tahu jalan ceritanya. Atau karena ada Alec Baldwin dan Kristen Stewart yang main. Yang jelas saya lebih memilih versi bukunya daripada versi filmnya.

4 stars Banner_BacaBareng2015-300x187

7 thoughts on “#367 Still Alice

  1. ide bukunya menarik nih, ttg sicklit ya, saya selalu treyuh kalo baca buku-buku demikian. membuka pandangan sekaligus menghadirkan rasa yang nyesek di dada. bersyukurlah kita yg diberi kesehatan.

  2. Kalo aku gak dua-dua nya. Gak kanker ato penyakit yang kehilangan jati diri. Eh tap, buku nya kayake menarik. Isu2 yang ada hubungan dengan penyakit yang tak lazim emang menarik untuk dibahas sih

  3. Penyakit hilang ingatan ini banyak dijadikan ide cerita yah. Tapi tetap menyentuh disetiap ceritanya, mungkin karena menyangkut keluarga. Hem, jadi pengen baca buku sama nonton filmnya

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s