[ +ask the author] #398 Eksistensi Rasa

27234446

Judul Buku : Eksistensi Rasa

Penulis : Farah Hidayati

Halaman : 248

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Rindu sedang menyaksikan tayangan di televisi yang menampilkan acara sahabatnya, Djo (Devin Jelaga Osman), ketika tiba-tiba Djo datang membawa kue ulang tahun untuk Rindu. Kejutan spesial itu membuat pikiran Rindu melayang kembali ke masa-masa mereka masih berkuliah di Universitas Mayapada di Yogyakarta. 

Awal semester ketiga. Rindu masih merasakan sedihnya kehilangan orang-orang terdekatnya. Ibunya meninggal, kekasihnya Langit magang keluar negeri, sahabatnya Bening dimutasikan oleh orang tuanya ke Malaysia, dan Djo yang menghilang tanpa kabar tepat di hari ulang tahunnya. Sepertinya Djo menyimpan rahasia, tapi Rindu terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.

Selain mencoba mengatasi hatinya yang gundah, Rindu juga disibukkan dengan pekerjaan menjadi asisten dosen Pak Musa, salah seorang dosen difabel di kampusnya. Ini salah satu cara Rindu mengatasi kehilangannya. Namun ketika Rindu menyampaikan semua kesibukannya dan juga perasaaannya pada Langit, Langit justru berpikiran lain. Langit memintanya mencari pengganti dirinya dan tidak menunggunya kembali lagi. Kata Langit, mungkin Ezra, asisten dosen Pak Musa yang juga seniornya Rindu bisa menggantikan posisinya di samping Rindu.

Sementara itu, Djo yang menghilang selama empat hari itu memang sedang mengurus sesuatu. Dia sedang mempersiapkan kepindahannya ke Cornell University, New York. Sebenarnya Djo sudah lama menyimpan rencana ini. Salah satu upaya yang ditempuhnya adalah dengan menjadi asisten dosen Bu Alexandra demi mendapatkan rekomendasi dari alumnus Cornell University itu. Yang sulit bagi Djo adalah menyampaikan tentang rencananya itu kepada Rindu. Dia ragu apakah Rindu bisa mengalami satu momen “ditinggalkan” lagi oleh orang terdekatnya.

Masalah Djo bukan hanya itu. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya. Salah satunya adalah mengapa dirinya selalu merasa aneh bila berada di dekat Ezra. Djo sadar sepenuhnya dirinya berbeda dengan pria lain pada umumnya. Dan dia tahu tidak ada jalan yang mulus baginya jika dia mengalah pada perasaannya. Tapi sinyal yang diberikan Ezra cukup kuat, apalagi ketika Djo tahu Ezra selama ini secara diam-diam selalu menyelipkan kartu pos di lokernya. Ada sesuatu dengan Ezra, dan Djo harus tahu itu sebelum dia pergi.

Rindu dan Djo adalah dua tokoh yang menjadi sentral di dalam novel ini. Meski di sinopsis di sampul belakang bukunya sepertinya menggambarkan porsi Djo lebih besar, tapi Rindu tetap mempunyai bagian khusus di dalam novel ini. Kekuatan novel ini adalah di pilihan diksinya yang quoteable banget. Interaksi antara Rindu dan Djo sebagai sahabat karib juga sangat terasa. Buat kamu yang sebelumnya pernah membaca novel Konstelasi Rindu (diterbitkan GPU di tahun 2013) sebelumnya, kisah Rindu dan Djo ini tentunya akan memuaskan rasa penasaranmu. Sayangnya, saya sendiri belum pernah membaca novel Konstelasi Rindu, jadi ini kali pertama saya “berkenalan” dengan Rindu, Djo, dan Langit. Akibatnya saya sering merasakan ada penggalan-penggalan informasi yang hilang saat membaca novel ini. Misalnya tentang penyakit apa yang diderita oleh ibunya Rindu, bagaimana chemistry antara Rindu dan Langit sebelum mereka LDR-an, atau sejak kapan Djo mulai coming out.

Namun, saya mengapresiasi penulis yang mampu meramu kisah ini dengan baik. Di dalam novel ini saya mencatat ada empat tokoh pria homoseksual atau gay. Eksistensi Rasa memang bukan novel pertama yang mengangkat topik itu. Tapi sebagai novel Young Adult yang tentunya menyasar anak-anak muda, beberapa penjelasan yang diwakilkan oleh keempat tokoh tadi setidaknya bisa membuka wawasan berpikir pembaca.

Mengakhiri review ini, saya mendapatkan kesempatan untuk memberikan beberapa pertanyaan kepada penulisnya, mbak Farah Hidayati seputar proses penulisan novel ini. Tapi sebelumnya, simak dulu tayangan berikut ini.

Halo mbak Farah…Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat atas terbitnya Eksistensi Rasa ini. Terima kasih juga atas kiriman bukunya dan kesempatan untuk mewawancarai mbak. Langsung saja ya Mbak…Mengapa mbak Farah memilih setting kota Yogyakarta dan jurusan arsitek? 

 Novel Eksistensi Rasa ini adalah bagian kedua dari novel Konstelasi Rindu (KR). Dalam pengantar KR aku cerita bahwa kehidupan Rindu dan teman-teman terinspirasi dari kehidupan mahasiswa di kampus arsitektur UGM Yogyakarta. Aku pernah kuliah di sana. (Dan enggak it’s not autobiographical. Mungkin lain kali aku harus berhenti nulis yang ada unsur arsitekturnya🙂 )

 Eksistensi Rasa (ER) ini kan kelanjutan dari Konstelasi Rindu (KR) yang terbit di tahun 2013, dan kalau tidak salah ada cuplikan/teaser tentang ER ini di halaman terakhir KR, dan sepertinya kisah Rindu dkk. masih berlanjut. Apakah kisah RIndu ini sejak awal memang direncanakan terbit secara berseri atau bagaimana? Trus rencana lanjutanya terbit kapan?

Pertama kali ngajuin naskah KR ke GPU lewat mbak Hetih Rusli, (yang aku kenal beberapa tahun sebelumnya di acara Adikarya Ikapi Award) Saat dia selesai baca draft KR beliau ngajak ketemuan di kantor GPU. Waktu itu selain mendengarkan ‘catatan editing’-nya untuk KR, aku juga menyampaikan rencanaku ke mbak Hetih kalau mau bikin novel lain yang terkait dengan karakter dari KR. Long story short, akhirnya lahirlah Eksistensi Rasa. Buku berikutnya, sedang aku selesaikan. Semoga tahun depan. Tapi sebagai penulis, aku merasa lebih nyaman kalau lahirnya dua tahun setelah ER.

 Masih menyambung pertanyaan di atas, berapa lama proses naskah ER ini (mulai dari draft awal sampai terbitnya)?

 Sekitar dua tahun.

Di antara beberapa tokoh di dalam ER, manakah yang yang menurut mbak Farah dia itu gue-banget dan mana yang bagi mbak Farah saya-nggak-bakalan-seperti-itu ?

Sebagai penulis, aku merasa there’s a little bit of myself di semua karakter. Misalnya the struggle of being different inside-nya si Djo. Atau isi CV Rindu saat melamar sebagai asisten Musa itu yang mirip dengan CV-ku: drama dan band. Dan terkadang aku juga annoying seperti Sherin.

Di dalam novel ER ini, ada tokoh Djo yang berani untuk menunjukkan bahwa preferensi seksualnya berbeda. Nah, tokoh Djo ini murni rekaan mbak Farah atau ada figur khusus yang ada di konstelasi pertemanan mbak yang seperti itu?

Rekaan, tapi terinspirasi dari orang-orang yang aku kenal.🙂

Terakhir, ditinggalkan atau meninggalkan?

Kalau pilihan secara sadar, ditinggalkan, karena aku orangnya tabah dalam menjalani penderitaan hehe…

***

Haha..sepertinya mbak Farah orangnya lugas juga ya. So…buat kamu yang penasaran dengan Rindu dan Djo, bukunya sudah beredar di toko-toko buku dengan warna biru eye catching ini. Jangan sampai kehabisan ya…

3 stars

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s