#406 Puya ke Puya

20151129_210017-1

Judul Buku : Puya Ke Puya

Penulis : Faisal Oddang

Halaman : 230

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Setiap satu ayunan kaki manusia, ia tengah berjalan pergi seklaigus menuju pulang. Orang-orang hidup hanya untuk mati, begitulah. Semakin kau berjalan menjauh, semakin maut berjalan mendekat. Dan Tuhan menciptakan surge bagi para pejalan. Entah karena apa…

Rante Ralla meninggal dunia. Sebagai seorang tetua adat dan bangsawan di Kampung Kete Kesu Toraja, maka dia harus dimakamkan dengan adat Rambu Solo’. Hanya saja biayanya tidak sedikit. Dibutuhkan 24 kerbau dan ratusan babi untuk mengantarnya ke puya (surga). Allu Rante, anaknya yang adalah seorang mahasiswa di Makassar, memutuskan untuk memakamkan ayahnya di Makassar. Tanpa adat dan tentu saja dengan biaya yang lebih murah.

Jelas saja keluarga besar Ralla murka. Paman Marthen, adik Rante Ralla adalah orang yang paling menentang usul Allu. Mau ditaruh dimana muka mereka jika Rante tidak dimakamkan secara adat. Paman Marthen mengusulkan agar mereka menerima tawaran dari Mr. Berth, pengusaha tambang nikel, yang hendak membeli tongkonan mereka. Uangnya bisa digunakan untuk membiayai pemakaman Rante. Tapi Allu berkeras hati, kalau rumah dan tanah mereka dijual dimana lagi mereka akan tinggal? Lagipula pesta adat ini hanya akan meninggalkan utang yang harus ditanggung oleh Allu dan ibunya, Tina Ralla.

Yang tersisa setelah kematian hanyalah ingatan dan ingatan… (juga luka?)

Sebagai orang Toraja, saya akrab dengan adat Rambu Solo’ yang diangkat di dalam novel ini. Saya masih ingat saat saya masih kecil, beberapa kali saya diajak oleh orangtua saya untuk menghadiri Rambu Solo’ kerabat yang meninggal. Yang saya ingat (dan suka) adalah kemeriahannya. Ada banyak orang, lantang (pondok bambu tempat menjamu tamu dan tempat tinggal sementara untuk keluarga), makanan enak, dan keluarga yang terserak bisa berkumpul. Beranjak dewasa, saya juga mengetahui bahwa untuk mengadakan adat itu butuh biaya yang sangaaat besar. Makanya hanya keluarga bangsawan yang mampu melaksanakannya.

Permasalahan itulah yang dihadapi oleh Allu Ralla dan Tina Ralla. Sebagai bangsawan, sepatutnya mereka harus mengadakan pesta adat untuk Rante. Tapi Allu sebagai pemuda yang idealis, menganggap hal itu tidak perlu. Budaya seharusnya bisa berubah sesuai perkembangan zaman. Allu berpikir praktis dengan mengumumkan niat menguburkan ayahnya di Makassar, sementara Tina hanya diam memendam semua rasa di dalam hatinya.

Novel ini dikemas dalam gaya unik. Ada empat POV yang bercerita secara bergantian. Yang pertama adalah narator yang menggunakan sudut pandang orang ketiga. Berikutnya ada Rante, Allu dan Maria yang bercerita dari sudut pandang orang pertama. Untuk membedakannya, penulis memakai tanda bintang (* untuk Rante, ** untuk Allu, dan *** untuk Maria) disertai tanda kurung. Yang menarik adalah kesetaraan persepsi antara orang yang sudah mati dan yang masih hidup. Seperti yang sudah disebutkan di awal, Rante sudah mati meski belum dikuburkan. Dari kisah Rante, ada banyak informasi penting yang berkaitan dengan adat dan penyebab kematiannya. Sementara Maria adalah adik Allu, yang sudah mati hampir 17 tahun yang lalu. Dia mati sebelum giginya tumbuh, karenanya Maria dikuburkan di dalam pohon tarra’ (sejenis nangka) yang menjadi rumahnya sebelum berangkat ke puya. Seperti halnya Rante, Maria juga memberikan informasi tak kalah penting. Semuanya menjadi kesatuan yang merangkai kisah ini dengan apik.

Jujur saja, saya punya pemikiran yang sama dengan Allu, bahwa adat Rambu Solo’ ini lebih banyak ruginya daripada untungnya dari sisi ekonomis. Tapi saya tidak setuju Allu mau membawa jasad ayahnya dimakamkan di Makassar. Saya paham Allu tidak mau memakamkan ayahnya di Toraja karena takut biayanya membengkak, tapi dengan membawa jasad itu dari sanak keluarganya, dari kampung halamannya, Allu tidak punya rasa hormat pada ayahnya. Allu adalah pemuda yang sangat mengikuti perkembangan budaya. Bukan saja masalah adat istiadat, gaya hidup Allu juga bebas (di sini Allu digambarkan sering berhubungan seksual dengan pacarnya). Allu hanya memikirkan dirinya sendiri, keuntungannya, dan masa depannya. Saat ada peluang untuk itu, semuanya dikorbankan. Termasuk ideologinya tentang adat Rambu Solo’. Di akhir cerita, saya sukses membenci Allu. Sementara Tina menggambarkan sosok perempuan Toraja yang setia dengan adat. Dia lebih sering diam, karena dia sadar dirinya adalah seorang perempuan. Sebagai “warga kelas dua”, seringkali pendapat perempuan tidak diperhitungkan dalam pertemuan yang membicarakan masalah adat. Apalagi dia menaruh kepercayaan penuh pada anaknya, yang kini menjadi kepala keluarga.

Saya rasa novel ini memang pantas mendapatkan juara IV dari Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014. Meski tipis, novel ini tidak hanya berbicara soal adat yang terkenal dari Toraja. Ada juga permasalahan soal perebutan tanah, pertambangan, campur tangan pemerintah dalam urusan adat, dan juga pengkhianatan. Apalagi novel ini ditulis oleh seorang anak muda. Saya merekomendasikan buku ini untuk yang mau mengenal budaya Toraja lebih dekat.

..dan Faisal, menjawab harapan yang kau tuliskan di bawah tanda tanganmu di dalam buku ini , saya mau bilang : buku ini memang menyenangkan, kurre sumanga’.

4 stars

SS2015-1-300x300

Okey…sekarang bagian yang ditunggu-tunggu. Siapakah Santa yang berbaik hati memberikan buku ini untuk saya?

Di dalam riddle-nya, Santa mengatakan kalau kami sedikit identik dengan kisah di dalam buku ini. Karena buku ini berkisah tentang adat Toraja, pikiran saya langsung melayang kepada satu orang member BBI yang saya tahu pasti, dia adalah orang Toraja. Dia adalah kak Matris Londa.

Tapi, kok segampang itu ya?

Saya lalu melirik alamat pengirim paket ini (sayang fotonya hilang dari handphone saya). Pengirimnya menggunakan alamat dari Jeneponto, Sulawesi Selatan. Apalagi katanya di tempatnya tidak ada toko buku. Saya teringat dengan Dhani Ramadhani. Dia tinggal di Jeneponto, dan dia pernah bertemu langsung dengan Faisal Oddang (yang memungkinkan buatnya untuk meminta tanda tangan penulisnya). Tapi bisa saja kak Matris meminta tolong pada Dhani, kan?

Yah…mengingat pengalaman Secret Santa saya selama dua tahun berturut-turut yang entah kenapa selalu terkait dengan sosok bernama Dani, maka saya memilih Dhani Ramadhani sebagai santa saya. Meski dia bukan orang Toraja, tapi Dhani juga tinggal di Sulawesi Selatan sama dengan saya.

So…my Santa, is that you?

19 thoughts on “#406 Puya ke Puya

  1. Judulnya lucu ya mbak des. Tapi pas baca repiu nya, kok malah kepincut pengen punya buku ini. Apalagi, aku buta dengan budaya orang Toraja.
    Oia, semoga tebakannya bener ya mbak des😀

  2. Yang tersisa setelah kematian hanyalah ingatan dan ingatan… (juga luka?)

    quotesya bagus :3

    awalnya kukira ini kumcer. Ternyata novel ya?
    Dan… dan.. Sayembara DKJ? :O *masukin keranjang*

  3. Aih santanya udah ngaku (aku Xnya aja belum posting :I)

    Ngomong – ngomong, adat Rambu Solo emang kayak harga mati ya? Berarti kalau tidak mampu, gimana nguburinnya yang sudah meninggal dong?😦

    • Kalau sekarang ini sudah ndak jadi harga mati lagi. Apalagi unsur agama sudah mulai mendominasi. Sekarang hanya golongan bangsawan yang mengadakan Rambu Solo’, soalnya biayanya mahal. Kalau non bangsawan, ya penguburan biasa saja.

  4. wih santanya udah ngaku🙂 btw bukunya menarik banget ya. aku pernah ke toraja dan ngobrol sama orang di sana yang mau menguburkan neneknya tapi karena masih ada masalah tentang jumlah kerbau dll yang belum disepakati, akhirnya neneknya disemayamkan di rumah mereka sudah berminggu2. bener2 funeral adalah tradisi yang penting banget ya di sana.

  5. Adat seperti itu susah dilawan walau seharusnya bisa mengikuti perubahan jaman. Sama seperti tradisi pemakaman umat Hindu, banyak kenalanku yang notabene orang Bali asli, rela punya hutang yang membelit demi menjalankan tradisi … daripada dikucilkan oleh lingkungan kata mereka, serba sulit ya.

  6. Selalu tereksan dengan adat pemakaman Toraja yang diliput di televisi, nah kalau dalam bentuk cerita dan dilemanya sendiri dari si tokoh penduduk Toraja, kayaknya perlu dibaca nih buku ini.. Selamat akhirnya santa tertebak ^^

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s