#428 The Silent Sister

20944671

Judul Buku : The Silent Sister

Penulis : Diane Chamberlain

Halaman : 328 (ebook)

Penerbit : St. Martin Press

Kematian ayahnya membuat Riley MacPherson harus kembali ke rumah mereka untuk mengurus peninggalan ayahnya. Riley merasa sangat kehilangan. Setelah ibunya meninggal pada saat dia berusia 16 tahun, lalu kakaknya Danny menarik diri dari keluarga, sekarang satu-satunya keluarganya juga sudah meninggal. 

Sebenarnya Riley punya seorang kakak lagi, bernama Lisa. Sayangnya Lisa meninggal karena bunuh diri pada saat Riley berumur 2 tahun. Lisa mengalami depresi karena popularitasnya sebagai seorang pemain violin terkenal. Saat itu Lisa masih berumur 17 tahun, namun bakatnya sudah membuatnya melanglang buana. Riley yang belum sempat mengenal Lisa dengan baik hanya mendengar cerita kedua orang tuanya tentang saudaranya itu. Cerita yang tanpa diduganya adalah sebuah kebohongan.

Pada saat Riley membereskan peninggalan ayahnya, satu per satu rahasia ayahnya mulai terkuak. Diawali dengan seorang perempuan yang ternyata adalah kekasih ayahnya setelah ibunya meninggal dunia. Jeannie, wanita ini tidak lain adalah sahabat ibunya sendiri. Jeannie jugalah yang membantu Riley untuk menjual rumah dan properti milik ayahnya. Rahasia lainnya yang terkuak adalah bahwa Lisa adalah seorang pembunuh. Dia dengan sadis menembak mati guru violinnya sendiri. Karena takut menghadapi hari-hari di penjara, Lisa memilih untuk bunuh diri.

Tapi tunggu dulu…ternyata kisah Lisa tidaklah sesederhana itu. Lisa masih hidup. Dia kini berganti nama menjadi Jade, dan hidup sebagai seorang pelarian. Adalah ayahnya yang merekayasa seluruh peristiwa bunuh diri Lisa agar Lisa dapat hidup bebas. Rahasia ini yang disimpan oleh ayahnya bertahun-tahun. Dan kini Riley ingin mencari keluarganya yang menghilang itu.

Keberadaan Danny, kakak laki-laki Riley yang menarik diri dari keluarga gara-gara mengalami banyak kekecewaan adalah salah satu dampak dari perbuatan yang dilakukan oleh Lisa. Danny merasa keluarga mereka sudah hancur sejak kematian Lisa. Kini mengetahui bahwa Lisa ternyata masih hidup, membuat Danny merasa Lisa harus bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkannya.

Kisah dalam The Silent Sister ini sangat kompleks. Seperti bawang yang berlapis-lapis, ada banyak “lapisan rahasia” di dalam novel ini. Satu rahasia membuka rahasia yang lain. Sebenarnya masih banyak konflik dan orang yang terlibat di dalamnya dan saling berhubungan satu sama lain. Inilah yang membuat saya penasaran dan bertahan untuk menghabiskan buku ini. Kenapa saya menyebutnya seperti itu? Karena di awal-awal kisah alurnya lambat membuat saya nyaris bosan. Saya sempat tergoda untuk skimming, tapi ada banyak detail bertebaran di dalam buku ini yang sayang untuk dilewatkan. Dan akhirnya ketika mendapatkan kejutan demi kejutan, saya hanya bisa mengumpat (dalam arti yang baik) di dalam hati.

Saya sempat bertanya-tanya, bagaimana seorang ayah tega menghilangkan identitas anaknya dan menjauhkannya dari keluarganya? Tapi setelah membaca buku ini saya bisa memahami bahwa inilah bentuk cinta seorang ayah yang tidak ingin melihat anaknya menderita di penjara. Pengalaman Frank (ayah Riley/Lisa) di kepolisian membuatnya tahu apa yang akan dialami oleh seorang terdakwa pembunuhan. Ayahnya kemudian seakan memberikan penghukuman untuk Lisa atas perbuatannya itu dengan caranya sendiri.

Selain misteri hilangnya Lisa, saya juga dikejutkan dengan kenyataan preferensi seksual Lisa. Tiba-tiba saja di bab 35, Lisa a.k.a Jade tertarik dengan seorang gadis yang baru dijumpainya. Memang sih sebelumnya disebutkan kalau Jade terpana melihat seorang gadis bermain violin, tapi saya pikir itu karena violinnya. Tapi hal ini tidak dibahas mendetail sih, dan hampir sebagian besar orang-orang (yang pernah) dekat dengannya langsung menerima hal itu.

Saya tertarik baca buku karya Diane Chamberlain karena direkomendasikan oleh Goodreads dengan mempertimbangkan bahwa saya menyukai karya Jodi Picoult. Sebenarnya sudah lama ingin membaca karya Diane ini, tapi baru terlaksana sekarang. Itupun dengan menyeret Alvina sebagai teman baca bareng. Dan untungnya ada teman baca bareng (yang kecepatan membacanya lebih kenceng dari saya), jadinya saya tidak mogok di tengah jalan. Hehe…

3 stars

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s