#430 Perfect Pain

27623942

Judul Buku : Perfect Pain

Penulis : Anggun Prameswari

Halaman : 316

Penerbit : Gagas Media

Bidari (Bi) telah menikah selama kurang lebih 12 tahun. Anaknya semata wayang, Karel, adalah alasannya untuk bertahan hidup. Pernikahannya memang tidak bahagia. Bi menjadi korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh suaminya sendiri, Bima. Namun Bi juga menyadari, Bima adalah pria yang dipilihnya. Semua ini adalah pilihan hidupnya. Apalagi Bima sering menyesal telah melakukan kekerasan padanya. Bima selalu meminta maaf dan mengaku khilaf telah memukul Bi.

Bagi Bi, dia layak menerima semua perlakuan itu. Dia memang tidak becus mengurus rumah tangganya sendiri. Luka memar yang dia terima adalah hal yang wajar. Namun hatinya pedih ketika melihat Karel yang berusaha membelanya. Karel sendiri merekam di kepalanya semua perlakuan yang diterima oleh ibunya. Hal itu tentu mempengaruhi hidup Karel.Perkenalan Karel dengan Sindhu, seorang pengacara yang juga adalah kekasih gurunya membuat Karel mulai berani. Suatu  ketika Bima mulai memukul Karel yang membela Bi, saat itu juga Bi merasa perlu segera bertindak. Dibantu oleh Karel, mereka berdua pergi meninggalkan rumah.

Dengan Sindhu sebagai pengacaranya, Bi mulai memperkarakan Bima ke jalur hukum. Sindhu sendiri ternyata memiliki masa lalu yang hampir sama dengan yang dialami Karel. Sayangnya di tengah jalan Bi berubah pikiran, dia ingin kembali kepada Bima. Sementara Sindhu berusaha keras meyakinkan Bi akan kekeliruannya itu.

Sebelumnya, saya sudah membaca beberapa review teman-teman mengenai novel depresi ini. Hampir semua mengatakan nyaris nggak kuat membacanya karena apa yang dialami oleh Bi. Saya sendiri berkali-kali mengambil jeda saat membaca buku ini, bukan karena ikut merasa nyeri dan depresi seperti Bi, tapi lebih kepada capek dengan karakter Bi.

Ada 4 hal yang saya bisa saya petik dari novel ini, terutama dari Bi. Yang pertama adalah menjadi seorang perempuan sebaiknya berpendidikan tinggi. Bi bukannya tidak berpendidikan, setidaknya dia berhasil menamatkan jenjang SMA. Namun kegagalannya masuk ke bangku kuliah membuat Bi berpikir dirinya memang bodoh dan tidak layak mengenyam pendidikan tinggi. Yang kedua adalah kemandirian finansial. Bi tidak bekerja. Hidupnya bergantung sepenuhnya pada Bima. Bima memang tidak membutuhkan istri yang bisa mencari uang. Bima hanya membutuhkan perempuan yang bisa mengurus rumah tangga selagi dia mencari uang.

Yang ketiga adalah tentang mencintai diri sendiri. Bi selalu merasa dirinya tidak sempurna, tidak cantik, tidak bisa memuaskan suami dan berbagai pandangan negatif lainnya tentang dirinya. Akhirnya dia merasa layak diperlakukan sebagai seorang yang rendah. Dan yang keempat, yang menjadi dasar dari semua pemikiran di atas adalah tentang relasi dalam keluarga. Bi dibesarkan oleh seorang ayah yang otoriter dan ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ayahnya yang menginginkan  anak laki-laki, malah hanya mendapatkan seorang anak perempuan. Kekecewaan ayahnya ditumpahkan lewat kata-kata negatif bagi Bi. Ayahnya selalu mencela apa yang dilakukan Bi, hingga puncaknya terlontarlah kata-kata bahwa si Ayah menyesal mempunyai anak seperti Bi. Ibunya hanya diam membisu. Kata-kata itu menjadi karakter yang menyusun pribadi Bi. Ketika Bi menemukan jalan keluar dari rumah yang bagaikan neraka baginya lewat seorang Bima, Bi langsung menyambar kesempatan itu. Minimnya sosialisasi Bi membuatnya pasrah pada satu-satunya kesempatan yang dia anggap datang padanya.

Tentang kemampuan penulis mengolah kisah KDRT ini membuat saya mengacungkan jempol. Saat membaca kisah Bi ini, saya teringat kembali dengan Serenade di After Rain. Kedua wanita ini sama menggemaskannya, membuat saya pengen ngomel-ngomel sama mereka. Namun saya hanya akan memberikan tiga bintang saja, karena ya itu saya capek dengan karakter Bi seperti yang saya bilang sebelumnya. Ditambah lagi kisah antara Sindhu dan pacarnya Elena hanya terasa seperti pemanis yang tidak lengkap.

3 stars

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s