#454 Secangkir Kopi dan Pencakar Langit

Judul Buku : Secangkir Kopi dan Pencakar Langit

Penulis : Aqessa Aninda

Halaman : 352

Penerbit : Elex Media Komputindo


Athaya adalah seorang gadis yang bekerja di bidang IT sebagai system analist. Di kantor tempatnya bekerja, dia satu-satunya cewek di divisi IT. Berada di tengah-tengah cowok-cowok membuat Athaya menjadi idola, apalagi dia memang cukup ahli di bidangnya. Bukan hanya cowok-cowok di divisi IT saja yang menyukainya. Satrya dari divisi lain juga mulai melirik Athaya. 

Kalau dibilang cantik, masih banyak cewek lain di kantor yang lebih cantik daripada Athaya. Tapi di mata Satrya, Athaya punya inner beauty yang membuatnya istimewa. Apalagi Athaya selalu mengingatkannya pada Alisha, gadis yang dulu dicintainya tapi sekarang sudah jadi istri orang. Sayangnya, Athaya yang meski jago coding ternyata kurang paham kode-kode dari seorang cowok.

Sebenarnya Athaya bukan tidak tahu, hanya saja hatinya sudah tertambat pada Ghilman, temannya di kantor tapi dari divisi berbeda juga. Hanya saja, Ghilman sudah punya pacar, cantik pula. Athaya sadar diri tidak akan bisa bersaing dengan pacarnya Ghilman. Tapi perhatian-perhatian kecil yang diberikan Ghilman membuat Athaya bertanya-tanya, mungkinkah dicintai lebih indah daripada mencintai?

Kisah cinta segitiga bukan hal yang baru, apalagi terjadi di tempat kerja. Namun ada yang istimewa dari kisah Satrya-Athaya-Ghilman ini. Meski dipenuhi becandaan ala anak kota, tapi cara keduanya melakukan pendekatan pada Athaya terlihat dewasa. Cara penlis membagi porsi antara Satrya dan Ghilman sangat adil. Alur ceritanya smooth dan tertata dengan baik. Hal menarik lainnya yang tidak membosankan untuk dibaca adalah obrolan kocak ala Radhi dan Ganesh, sesama penghuni blok IT di kantor mereka.

Namun sebagai novel debut saya menemukan satu-dua kekurangan di dalam novel ini. Yang pertama adalah kecenderungan penulis yang sering mengulang-ulang detail kecil. Misalnya kekaguman Athaya melihat Ghilman menyetir atau warna kelopak mata Athaya. Kalau saya sih merasa terganggu dengan pengulangan itu. Kemudian ada di halaman 16, dimana diceritakan Satrya dan kawan-kawan akan pergi makan siang di luar kantor dan mereka menggunakan lift. DI situ tertulis ketika lift sampai di lantai 21, mereka berhamburan keluar menuju pintu kantor. Entah kantornya ini punya ruang bawah tanah, atau pintu kantornya memang ada di lantai 21 dan mereka rame-rame terjun ke bawah🙂

Lantas mengapa judulnya Secangkir Kopi dan Pencakar Langit? Saya kasih bocoran ya dari quote yang saya suka dalam novel ini.

Di tengah-tengah pencakar langit yang tinggi dan kokoh dengan ketidakpeduliannya akan sekitar, ada secangkir kopi yang hangat dan menenangkan, membuat siapa pun yang meminumnya terjaga.Hal kecil yang sudah menjadi rutinitas dan membosankan tapi tak dapat dilewatkan. (hal. 318)

Saya merekomendasikan kamu  untuk membaca novel ini. Agar kamu tahu, apakah kamu sudah menemukan “secangkir kopi di pagi hari yang hangat dan menenangkan” seperti Athaya.

3 stars

6 thoughts on “#454 Secangkir Kopi dan Pencakar Langit

Ikut Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s